Assalamu'alaikum, Selamat Datang dan Selamat Membaca

Minggu, 17 September 2017

Kembali "TERJEBAK" dalam Lubang Iblis

Salam keselamatan bagi semua pembaca. Kali ini penulis akan melanjutkan part dari Sang Hina yang dulu sempat terputus. Judul kali ini adalah Kembali "TERJEBAK" dalam Lubang Iblis. Kenapa harus ada kata "Kembali" ?. Ada apa dengan kata "Terjebak dalam lubang iblis" ?. Penulis akan menjabarkan semuanya disini, jadi tetap baca hingga kalimat yang terakhir ya !!! hehe.
Kata "Kembali" diperuntukkan untuk sesuatu hal yang di ulang lagi. Sedangkan untuk kata "Terjebak dalam lubang iblis" adalah ketika seseorang tidak mampu mengontrol nafsu dan masuk dalam hasutan iblis laknat.
Hal seperti inilah yang terjadi pada Sang Hina sewaktu dia bekerja sebagai marketing. Saat itu cuaca sangatlah cerah, hingga tenggorokan Sang Hina kering bagaikan telaga tanpa air. Teman-teman Sang Hina yang merasakan hal sama, mengajak Sang Hina untuk minum di suatu kedai kelapa muda pada siang itu. Bagaimana rasanya ketika ada es kelapa muda membasahi tenggorokan yang sangat kering ???. Brrrrr, Bisa pembaca bayangkan sendiri, intinya apa yang pembaca bayangkan, itulah yang dirasakan Sang Hina pada waktu itu. Hehe
Tidak akan terjadi masalah apapun jika hal itu dilakukan pada hari biasa. Masalahnya adalah pada waktu itu bertepatan dengan bulan suci umat Islam sedunia. Jadi intinya teman-teman Sang Hina membujuk dia untuk membatalkan puasa hampir setiap hari. Pada awalnya, Sang Hina mampu menepis semua godaan dan rayuan yang ada. Namun, karena hampir setiap hari godaan selalu menyertai, akhirnya benteng Sang Hina yang kokoh mampu diruntuhkan. Mungkin banyak pembaca yang mencibir Sang Hina karena perilakunya ini. Tapi orang-orang "lapangan" pasti dapat mengerti dan memahami kejadian ini.
Pada awalnya Sang Hina tetap bertanggung jawab dengan hanya membatalkan puasa 1 kali saja. Tapi godaan yang sangat intens membuat Sang Hina tak mampu berbuat apa-apa lagi. Sang Hina terpaksa membatalkan beberapa puasanya dalam bulan suci tersebut.
Setelah bulan suci lewat, Sang Hina mengakui kesalahannya dan mencoba untuk menebusnya. Sang Hina teringat akan kejadian yang serupa sewaktu Sang Hina masih mengenakan seragam putih abu-abu. Pada saat itu, Sang Hina yang memutuskan jalan kaki untuk pulang ke gubuknya, merasa kelelahan dan kehausan. Setibanya di gubuk, Sang Hina merasa heran dengan pintu kamarnya yang terkunci dari dalam. Dengan hati yang dipenuhi dengan perasaan curiga dan penasaran, Sang Hina memutuskan untuk mendobrak pintu kamar. Setelah pintu berhasil terbuka, Sang Hina seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya saat itu.
Sang Hina memergoki beberapa temannya sedang buka bersama pada waktu yang tidak seharusnya. Melihat Sang Hina muncul secara tiba-tiba, teman-teman Sang Hina yang kepergok langsung menarik Sang Hina masuk kamar dan kembali mengunci pintu dari dalam.
Setelah pintu terkunci dan keadaan dirasa aman, teman-teman Sang Hina langsung menyodorkan nasi bungkus, lauk dan berbagai macam minuman dingin. Sang Hina yang masih junior diantara yang lain seakan terlarut dalam keadaan dan semakin terjerumus dalam lubang iblis.
Mungkin cerita ini banyak sekali yang mengalami, namun Sang Hina berpesan bahwa janganlah kita membanggakan kejelekan. Hal ini dikarenakan kita akan mendapatkan banyak masalah sesudahnya.
Mungkin itu dulu ya pembaca, mohon maaf kalau ada kesalahan kata maupun kalimat.
Salam keselamatan untuk kita semua.

Perjuangan Sang Hina

Salam keselamatan untuk semua pembaca. Sebelumnya penulis mau meminta maaf yang sebesar-besarnya, karena sudah lama sekali penulis tidak update di blog ini lagi. Walaupun terkadang penulis ingin menggerakkan jari dan mencurahkan isi hati, namun apalah daya waktu dan kondisi belum merestui, hehe. Okay, langsung saja penulis akan mencoba melanjutka cerita dari Sang Hina. Oh ya bagi pembaca yang belum tahu sejarah dari sang hina, bisa langsung lihat di blog ini juga. Tanpa perlu berpanjang lebar lagi, karena yang panjang-panjang belum tentu melebar, hehe. Kali ini penulis akan menceritakan lanjutan kisah dari Sang Hina yang berjudul "Perjuangan Sang Hina". Sesuai dengan judul tersebut, disini penulis akan menjabarkan perjuangan-perjuangan dari Sang Hina khususnya setelah Sang Hina lulus dari perkuliahannya.
Pasti pembaca sudah tahu dan mendengar bahwa banyak orang yang bertanya seperti ini "Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya nganggur juga ?". Iya,,, hal itu juga dialami oleh Sang Hina. Setelah kuliah selesai, Sang Hina tidak langsung mendapatkan pekerjaan dan terpaksa harus menganggur. Bukan berarti Sang Hina tidak berusaha mencari pekerjaan, tapi karena Tuhan berkehendak lain. Akhirnya Sang Hinapun mendapat cacian dan ejekan baik dari orang-orang desa maupun teman-temannya. Ejekan dan cacian itu bertahan selama kurang lebih 2 bulan. Tapi Sang Hina tak mau memperdulikan semua itu dan memilih untuk tetap maju. Hingga hal yang dinanti-nati datang menghampiri. Yup, Sang Hina mendapat tawaran kerja sebagai konsultan bisnis di salah satu perusahaan saham. Namun berhubung terjadi kesalah pahaman antara pimpinan dengan Sang Hina, akhirnya Sang Hinapun mengundurkan diri dengan terhormat. Samg Hina berkeja selama 2 bulan diperusahaan tersebut.
Kemudian Sang Hina mencoba mencari pekerjaan lagi dengan langkah gontai tanpa arah, keringat berkucur dengan deras, dan jaket lusuh selalu menghiasi pundak (malah kayak lagu ya, hehe).
Akhirnya kurang lebih sekitar 1 bulan menganggur, Sang Hina memdapat tawaran kerja lagi. Namun kali ini terpaksa Sang Hina tolak, karena pekerjaannya sama dengan yang awal, yaitu MARKETING. Dalam hati Sang Hina bingung serta menanyakan pada Dzat Yang Membolak Balikkan Hati. "Tuhan, apakah tiada pekerjaan lain yang dapat mewujudkan cita-cita hamba selain marketing ?" Sang Hinapun bertanya pada Tuhannya. Dalam keadaan gundah gulana, Sang Hina sempat mengakhiri hidupnya karena rasa malu yang tidak kunjung reda. Namu Tuhan berkehendak lain, segala macam usaha percobaan untuk mengakhiri hidup akhirnya kandas tanpa ada hasil. "Tuhan tolong kasih hamba pekerjaan yang Engkau ridloi", minta Sang Hina pada Tuhannya. Akhirnya 1 minggu sesudah Sang Hina memohon, datanglah tawaran pekerjaan yang aslinya sangat dibenci oleh Sang Hina, apalagi kalau bukan marketing. "Tuhan, jika ini mauMU, aku akan menurutinya, dan semoga Engkau merestui jalanku". Sang Hina akhirnya terpaksa menerima pekerjaan itu. Namun, jika segala sesuatu diawali dengan ketidak sukaan, maka sesuatu tersebut tidak akan bertahan lama. Hal inilah yang terjadi pada Sang Hina, dia hanya mampu bertahan sebagai marketing selama kurang lebih 4 bulan. Sang Hina keluar dari kantor tersebut karena Sang Hina selalu dimanfaatkan oleh senior-seniornya. Akhirnya Sang Hina kembali mendapat lebel "PENGANGGURAN". Akan tetapi, kali ini Sang Hina sudah bisa menerima keadaannya secara utuh. Sang Hina tak lagi merengek atau marah pada Tuhannya, karena Sang Hina telah sadar bahwa Tuhan tidak akan lupa pada hamba yang ingat padaNYA. Selain itu, Sang Hina mampu belajar ilmu baru, yaitu ilmu marketing yang total selama kurang lebih 6 bulan ia jalani. Bagi Sang Hina, tidaklah percuma orang-orang yang menuntut ilmu setinggi-tingginya, karena ilmu yang dia dapatkan akan berguna bagi dia hingga dia tiada.
Pesan Sang Hina adalah "Jangan pernah putus asa, niati-jalani-hadapi segala rintangan dengan kesabaran hati, dan jang pernah menghina orang lain, karena kita belum tau apakah besok kita lebih tinggi atau lebih rendah dari orang tersebut.
Surodiro Joyoningrat, Lebur Dening Pangestuti.
Ojo Adigang, Adigung, Adiguno.
Urip iku Urup.
Salam keselamatan untuk kita semuanya.
Salam Rahayu.

Senin, 09 Januari 2017

Biografi Sang Hina Part 4 “Maut Yang Terlewat”



Salam keselamatan untuk kita semua, terutama untuk para pembaca yang telah sudi menyambangi blog saya dan yang telah rela menyisakan waktunya hanya untuk sekedar membaca tulisan saya ini. Sesuai dengan judul part kali ini yaitu “Maut Yang Terlewat”, disini penulis akan menceritakan beberapa kisah dari Sang Hina yang berhubungan dengan MAUT. Dari judul saja mungkin para pembaca sudah mengira bahwa kisah kali ini akan menjurus pada KEMATIAN. Mungkin persepsi para pembaca sama seperti maksud atau isi dari tulisan kali ini, namun pembaca juga harus memperhatikan kata dalam judul setelah kata MAUT ya, hehehe (red). Kata “Yang Terlewat” berarti Sang Hina tidak akan mati dalam kisah ini, kalau Sang Hina mati, maka tidak akan ada part-part selanjutnya alias The End. Saya tidak akan berpanjang kali lebar lagi, karena disini bukan tempat anda belajar rumus bangunan persegi panjang, hehehe (red).
Mungkin pembaca yang sudah mengikuti kisah Sang Hina dari part 1 hingga 3 sudah mengetahui bahwa Sang Hina hanyalah anak desa dan dari keluarga yang sangat sederhana. Sekilas info mengenai desa Sang Hina, sebuah desa yang memiliki nama unik, masyarakat unik, luas yang bisa dikatakan melebihi ukuran desa-desa sebelahnya dan beberapa aliran sungai dari yang kecil hingga yang besar menambah keunikan dari desa Sang Hina ini. Nama desa dari Sang Hina adalah desa P (nama disamarkan supaya tidak menimbulkan SARA), yang mirip sekali dengan salah satu material bangunan. Nama desa ini diambil karena pada zaman dahulu lokasi dari desa ini adalah pesisir pantai (menurut cerita dari para nenek moyang, hehe). Walaupun terhitung sebagai desa, sebagian besar masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut memiliki selera khususnya didalam bidang life style atau gaya hidup yang tidak kalah mewah dengan orang perkotaan. Anda tidak percaya ? tapi fakta-fakta menunjukkan bahwa memang keadaan masyarakat desa tersebut seperti itu, salah satunya ialah ketika ada seorang laki-laki ingin menikahi wanita desa tersebut, minimal laki-laki itu harus menyiapkan beberapa mas kain sebagai berikut: perabotan dapur (panci, kompor, penggoreng, dll), perabotan rumah seperti lemari dan kulkas, emas sepeti anting-anting, kalung dan gelang, hingga minimal satu sepeda motor (walaupun ada juga yang memberikan mobil, tapi rata-rata masih memberikan motor). Semua benda yang telah dijelaskan diatas seakan menjadi benda yang wajib dibawa bagi mempelai pria jika ingin mempersunting wanita didaerah itu. Padahal seharusnya yang paling wajib dalam pernikahan ialah ijab qobulnya, sedangkan mahar itu bisa berwujud banyak hal seperti hafalan Al-Qur’an, uang 10.000 rupiah dan lain sebagainya (asal dua belah pihak ikhlas dan ridlo, hehe). Sedangkan luas dari desa Sang Hina ini bisa mencapai hampir 2 sampai 3 kali lipat dari desa-desa sebelahnya.
Diatas sudah dijelaskan bahwa desa dari Sang Hina juga di apit oleh beberapa sungai baik yang besar maupun kecil, ada satu sungai besar dan empat sungai kecil di desa itu. Sungai besar memiliki nama sungai K (nama yang ngetrent diwilayah itu), sedangkan sungai yang kecil memiliki nama sebagai berikut: P, E, L dan D. Kejadian pertama bertempat di salah satu sungai kecil yang bernama L. Waktu itu Sang Hina masih berumur sekitar 5 tahun, berhubung umur Sang Hina masih tergolong dalam anak-anak sehingga Sang Hina belum bisa berenang pada waktu itu. Akan tetapi akibat bujukan dan hinaan dari teman-teman Sang Hina yang berumur lebih tua membuat Sang Hina memutuskan untuk ikut turun ke sungai itu atau bahasa kerennya melu njegor, tanpa berfikir apakah dia bisa berenang atau tidak. Akhirnya kejadian yang tidak diinginkan itupun terjadi, Sang Hina yang tidak mampu berenang tenggelam dalam sungai yang memiliki kedalam sekitar dua meter tersebut (tenggelam is Kelelep). Kejadian tersebut sontak membuat panik semua teman-teman Sang Hina yang ikut mandi tersebut, sangking paniknya semua teman-teman Sang Hina pergi ke desa untuk meminta bantuan (jarak sungai dan desa sekitar 500m, namun sungai itu secara teritorial masih ikut desa Sang Hina). Sang Hina yang sudah tenggelam selama beberapa menit didalam sungai itu akhirnya hanya bisa pasrah dan berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya yang sudah tidak berdaya didasar sungai. Akhirnya do’a Sang Hina dikabulkan oleh Tuhan lewat seseorang yang mau mandi di lokasi dimana Sang Hina tenggelam, Sang Hina yang mendengar suara dari dalam air akibat pergesekan antara benda padat (orang) dengan benda cair (air sungai) itu berusaha meminta bantuan dengan cara merayap-rayap didasar sungai dengan nafas yang tersisa. Perjuangan Sang Hina berbuah manis ketika tangannya berhasil menggapai salah satu kaki dari orang yang mandi tersebut, orang yang sedang mandi tersebut sangat kaget ketika Sang Hina berhasil menggapai kakinya dan mengangkat kakinya ke permukaan sehingga Sang Hinapun terselamatkan. Dengan tenaga yang tersisa, Sang Hina mengucapkan terimakasih pada orang tersebut. Bagaimana dengan kejadian “MAUT” yang pertama ini ? Apakah sudah membuat perasaan anda campur aduk antara kesal karena kebodohan Sang Hina yang nekat masuk dalam sungai dan kasihan karena Sang Hina terdampar di dasar sungai beberapa menit lamanya ?. Tenang saja, karena kisah itu hanya salah satu dari kisah “Maut Yang Terlewat”, masih ada beberapa kisah lagi yang hampir merenggut nyawa dari Sang Hina.
Lanjut ke kisah berikutnya, TKP masih sama yaitu di sungai, namun kali ini terjadi di sungai yang bernama E. Waktu itu Sang Hina sudah memasuki kelas 3 SD, berhubung Sang Hina sudah beranjak besar, kemampuan berenang dari Sang Hinapun ikut meningkat sehingga Sang Hina tidak takut lagi untuk berenang di sungai lagi. Pertanyaanya adalah kenapa Sang Hina dikatakan hampir meninggal di sungai ketika dia sudah mampu berenang dengan baaik ?. Kali ini bukan masalah bisa tidaknya Sang Hina dalam berenang, namun lebih menjurus kearah MISTIS atau SUPRANATURAL. Ada salah satu makhluk astral yang bertempat tinggal disungai-sungai yang biasanya menyeret orang-orang yang sedang mandi diwilayah makhluk tersebut untuk dijadikan sebagai “makanannya”. Makhluk itu dikenal dengan sebutan setan KALAP oleh masyarakat sekitar. Kejadiannya bermula pada saat Sang Hina bersama dengan teman-temannya memutuskan untuk mandi setelah seharian mengikuti pelajaran olahraga di lapangan desa, Sang Hina dan teman-temannya yang sudah sangat kepanasan karena terik matahari yang sangat panas langsung menjeburkan dirinya di sungai E tersebut. Hingga pada saat Sang Hina menyelam dan tidak berselang lama dikagetkan oleh adanya sebuah tangan dengan kuku yang sangat tajam serta sangat kasar pada telapak tangannya menggapai kaki kiri dari Sang Hina. Sang Hina yang kaget secara reflek menendang tangan tersebut dengan kaki kanannya dan langsung berdiri di sungai itu (kedalaman sungai E tidak sedalam sungai L, sehingga jika kita berdiri, sebagian dada dan kepala kita masih bisa berada diatas permukaan air) sambil marah-marah karena Sang Hina mengira bahwa itu ulah dari teman-temannya. Namun Sang Hina terdiam ketika ada salah satu temannya memberitahu bahwa tidak ada satupun orang dibelakangnya. Kemudian Sang Hina serta teman-temannya memutuskan untuk menyudahi kegiatan berenang tersebut, setelah sampai daratan, Sang Hina dikagetkan dengan bekas luka yang ada di kaki kirinya. Sang Hinapun kembali mengingat bahwa telapak tangang yang memegang kaki kirinya memiliki tingkat kekasaran melebihi kekasaran telapak orang pada umumnya. Pada lain waktu Sang Hina yang masih penasarang tentang tangan kasar dan tajam itu akhirnya memutuskan untuk mencari tahu dengan menanyai orang-orang yang berada di sekitar sungai E itu (lokasi sungai E berada didalam desa). Jawaban dari semua orang yang ditanyai oleh Sang Hina sama yaitu “itu adalah ulah hantu atau setan KALAP, karena memang sungai ini angker dek”. Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih Seraaaaaaaaaaaaam, hehehe.
Kisah “MAUT YANG TERLEWAT” terakhir terjadi ketika Sang Hina memasuki kelas 2 SMA (info tentang SMA Sang Hina bisa dilihat di part-part sebelumnya). Kejadian tersebut terjadi ketika Sang Hina diajak untuk membenarkan aliran listrik di PONPESnya oleh salah satu ustadz Sang Hina. Sebelum membenarkan aliran listrik, ustadz Sang Hina menyuruhnya untuk mematikan semua aliran listrik dari saklar. Setelah saklar dimatikan dan ustadz Sang Hina memastikan bahwa sudah tidak ada aliran listrik yang aktif akhirnya kegiatan pembenaran listrik tersebut dilaksanakan. Namun sang ustad terkaget-kaget sewaktu Sang Hina kejang-kejang akibat tersetrum listrik (coba pembaca bayangkan, aliran listrik yang mencukupi hampir 15 ruangan yang ada di PONPES tersebut memusat pada satu titik yaitu pada Sang Hina. Betapa tinggi tegangannya dan betapa hebat sensasi kesetrumnya ?, hehehe). Sang ustadz yang melihat kejadian itu langsung lari kearah saklar listrik PONPES dan mematikan saklar yang tiba-tiba hidup itu. Masih menjadi rahasia kenapa saklar yang sudah dimatikan bisa hidup atau on lagi.
Bagaima pembaca ? Apakah pembaca sudah dag dig dug der ketika membaca kisah kali ini ?. Dalam beberapa kisah yang telah anda baca, dapat diambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak akan melupakan hambaNYA yang selalu ingat dengan Dia. Ini bukan berarti Sang Hina adalah orang yang sholeh, namun karena sebelum kejadian-kejadian itu terjadi, Sang Hina masih menyempatkan diri untuk berdo’a pada Tuhannya. Do’a ialah salah satu wujud kita untuk mengingat Keberadaan dan Kebesaran Tuhan kita. Semoga pembaca terhibur dengan tulisan penulis pada Biografi Sang Hina Part 4 kali ini.
Salam Keselamatan untuk kita semua.

Rabu, 21 Desember 2016

Biografi Sang Hina Part 3 "Pencarian Permata"

Salam,,,
Kali ini penulis akan menceritakan tentang perjalanan cinta dari Sang Hina. Dimulai ketika Sang Hina memasuki Sekolah Dasar atau SD. SD Sang Hina masih dalam lingkup desa yang telah memberikan tempat hidup bagi Sang Hina. Ketika Sang Hina memasuki kelas 3 SD, Sang Hina baru menyadari bahwa hatinya telah di takhlukkan oleh seorang wanita. Namun, layaknya punuk yang merindukan rembulan, begitupun yang terjadi pada kehidupan Sang Hina saat itu. Wanita yang mampu memasuki relung hatinya menjadi seorang bunga kelas (wanita yang di senangi satu kelas). Sehingga Sang Hina tak mampu menggapainya, karena Sang Hina sadar akan dirinya yang baik secara fisik dan ekonomi masih serba kekurangan. Akhirnya Sang Hina hanya mampu melihat dan mengagumi wanita tersebut dari kejauhan. Perasaan Sang Hina terhadap wanita itu usai ketika Sang Hina memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama atau SMP, karena sekolah wanita tersebut jauh diluar desa Sang Hina. Namun berhubung pada kali ini penulis berniat untuk menulis kisah cinta dari Sang Hina, maka kicah cinta Sang Hinapun tidak akan berhenti sampai disini, hehe (red). Penulis akan melanjutkan kisah percintaan Sang Hina, khususnya pada saat Sang Hina SMP. Hari-hari wal masuk SMP, Sang Hina tidak menemukan seorangpun wanita yang dapat menggantikan posisi dari seorang bidaari yang menjadi cinta pertama dari Sang Hina. Hingga pada suatu hari, ketika hari perpisahan akan menjemput hari pertemuan, barulah Sang Hina tersadar bahwa bidadari yang dicarinya ternyata ada didepan mata. Ya, bidadari yang selama ini dicari oleh Sang Hina ternyata selama 3 tahun bersama Sang Hina atau dengan kata lain masih dalam satu kelas yang sama. Akhirnya diujung tahun dari kegiatan belajar mengajar, Sang Hina mulai memanahkan busur panahnya untuk dapat menggapai bidadarinya. Mungkin para pembaca masih ingat dengan potongan lagu ini,,, " Hawa tercipta di dunia, untuk menemami sang Adam, begitu juga dirimu, tercipta tuk temani aku ". Bagaimana, masih ingatkan dengan lagu itu ? Ya, lagu yang dibawakan oleh Group Band Dewa 19 yang masih hits sampai sekarang menjadi senjata awal dari Sang Hina untuk menamcapkan busur cinta di hati sang pujaan. Namun, senjata itu bagaikan peluru yang mencoba menerebos lapisan baja alias GATOT atau gagal total. Bukan Sang Hina apabila menyerah hanya karena satu senjata tak mampu menaklukkan musuh ( kalau ini imajinasinya jangan ke arah perang ya, tapi kearah pengorbanan dalam hal percintaan, hehe ). Setelah Sang Hina menyadari bahwa usaha pertamanya gagal total, Sang Hinapun merencanakan strategi ke dua. Sang Hina mencari situasi dan kondisi yang pas untuk menyatakan perasaannya secara langsung ( oh ya untuk lirik lagu diatas, Sang Hina menyampaikannya lewat tulisan, karena Sang Hina masih malu-malu untuk menyatakan secara terang-terangan, hehe). Akhirnya waktu yang dinantipun tiba, biasanya setiap daerah memiliki cara masing-masing untuk memperingati hari kelahirannya. Kalau di desa Sang Hina, hari lahir desa diperingati dengan acara wayang kulit satu hari satu malam, kalau di desa pembaca bagaimana perayaannya ? ( silahkan ditulis di kolom komentar :) ). Pada hari perayaan kelahiran desa itulah Sang Hina melancarkan aksi untuk mendapatkan sang pujaan hati atau sang permata hati. Aksi itu dimulai ketika sang permata memasuki kawasan perayaan tersebut. Sang Hina yang memiliki banyak teman meminta bantuan teman-temannya untuk menyebar guna mencari keberadaan dari sang permata. Sedangkan Sang Hina menunggu dengan sabar di salah satu rumah yang berada didekat lokasi perayaan itu. Akhirnya salah satu dari teman Sang Hina yang disebar melaporkan bahwa sang permata tengah berada di salah satu lorong dekat lokasi perayaan itu. Namun teman Sang Hina itu juga menuturkan bahwa sang permata tidak sendirian alias ada orang lain, tapi teman Sang Hina tidak bisa melihat dengan jelas apakah orang yang bersama sang permata itu berjenis kelamin laki-laki atau perempuan karena keadaan lorong yang cukup gelap. Setelah mendapatkan laporan, Sang Hinapun bergegas untuk menyusul permatanya dengan dikawal beberapa teman dari Sang Hina. Sesudah sampai ditujuan, Sang Hinapun tersadar bahwa yang bersama sang permata adalah seorang laki-laki. Pada saat itu Sang Hina mulai curiga, mengapa sang permata bersama laki-laki ditempat sepi dan gelap seperti itu. Rasa keingintahuan yang besar mendorong Sang Hina untuk merapatkan barisan ke arah dua insan itu. Dengan sedikit usaha, akhirnya Sang Hina berhasil menyusup dengan jarak sekitar 5 meter dari dua insan itu tanpa sepengetahuan mereka. Dalam sayup-sayup malam dengan diiringi lantunan syair dari sang jangkrik, Sang Hina mendengar dari mulut laki-laki itu terucap kata-kata yang tidak ingin terdengar oleh Sang Hina. Kata-kata itu adalah kata-kata yang memiliki makna pernyataan suatu perasaan pada orang yang di cintainya. Setelah mendengar kata-kata itu, Sang Hinapun lari pulang ke rumah tanpa memperdulikan apakah mereka mengetahui keberadaan Sang Hina atau tidak. Sesampainya di rumah, Sang Hina langsung masuk dalam kamar dan menangis histeris ditemani bantal guling yang menyumbat mulut supaya meredam suara yang keluar dari tangisan Sang Hina. Mulai detik itu, Sang Hina akhirnya menyadari bahwa dia telah terlambat untuk menyatakan cintanya dan Sang Hina telah menyerah dalam berjuan mendapatkan permatanya. Sungguh malang nasib Sang Hina, karena dalam urusan cinta dia selalu merasakan pahitnya penderitaan dari SD hingga SMP. Memasuki jenjang SMA, Sang Hina memutuskan untuk merantau ke kota orang guna mencari ilmu dan mencari cinta atau permata (terpaksa ditambahi "mencari cinta atau permata, karena memang bagian ini membahas hal tersebut :)"). Waktu Sang Hina kelas X, Sang Hina belum menemukan permata yang dapat mengisi relung hatinya. Hingga pada saat Sang Hina memasuki kelas XI-IPS3, Sang Hina mulai menemukan permatanya. Sedikit deskripsi dari permata ini, dia anak yang sangat pendiam (lebih pantas di sebut cuek), memiliki kecerdasan rata-rata (dilihat dari nilai raport yang selisih sedikit dengan Sang Hina :) ), kalau dibilang cantik ya pasti bilangnya cantik karena kecantikan seseorang bersifat relatif serta subjektif :). Dalam usaha mendapatkan sang permata, kali ini Sang Hina melakukan dengan cara yang mungkin secara akal atau pikiran tidak bisa menerimanya. Sang Hina menempuh cara yang melibatkan suatu amalan kebatinan dalam usahanya kali ini. Bukannya apa-apa, memang pada waktu itu Sang Hina sedang terpesona dengan ilmu kebatinan, hehe. Rencanapun berjalan mulus dengan diiringan do'a-do'a disetiap usahanya dalam menemukan sang permata. Akhirnya, Sang Hinapun dapat merasakan indahnya cinta pada saat itu. Namun Sang Hina lupa sebuah pantangan yang mengakibatkan keindahan tersebut berubah menjadi dendam yang tidak dapat dilupakan dan dimaafkan. Akhirnya sang permatapun pergi meninggalkan Sang Hina dengan kemarahan yang baru dima'afkan ketika Sang Hina memasuki semester 5 di perkuliahan Sang Hina. Selama jeda waktu kelulusan SMA Sang Hina dan masa perkuliahan Sang Hina, akhirnya Sang Hina menemukan satu permata yang mau menerima Sang Hina apa adanya. Namun hubungan manis itu hanya berjalan sekitar 3/4 bulan saja dikarenakan orang tua dari Sang Hina tidak merestui hubungan tersebut. Masuk ke zaman ketika Sang Hina pertama kali menginjakan kaki di pusat pemerintahan Jawa Tengah yaitu Semarang. Pertama kali masuk dalam perkuliahan, Universitas Sang Hina mengadakan acara yang bernama "Pekan Ta'aruf". Acara tersebut bertujuan untuk mengenalkan seluk beluk Universitas pada seluruh mahasiswa yang baru masuk. Pada hari pertama pekan ta'aruf, Sang Hina dibuat terkagum-kagum dengan sesosok wanita dari kota tempat Sang Hina menggali ilmu ketika SMA. Wanita itu begitu anggun dan mempesona, sehingga membuat mata Sang Hina tak berkedip sedikitpun. Nama wanita itu ialah ASN (inisial saja ya, takut dianya baca :) ), dia sangat sopan, religius dan berpengetahuan luas khususnya dibidang organisasi, karena dia sudah berorganisasi ketika dia baru memasuki SD. Perjalanan cinta Sang Hina kali ini berjalan sangat alot karena sang permata sudah memberitahu bahwa ia tidak akan menjalin sebuah hubungan percintaan sebelum ia lulus dan bekerja. Kalau dituliskan waktunya sekitar 6 tahun dari pertama ia menginjakkan kaki diperkuliahan. Dengan tekat baja, Sang Hina menunggu sudah hampir 5 tahun (pada saat ini). Namun dalam jangka watu tersebut Sang Hina tetap melancarkan aksinya untuk mencoba mendekatkan diri dengan sang permata (kali ini sudah tidak menggunakan ilmu kebatian alias murni dari usaha Sang Hina karena Sang Hina sudah tobat :) ). Hingga pada suatu ketika dengan terang-terangan sang permata menolak cinta dari Sang Hina yang membuat Sang Hina jatuh tersungkur kembali dalam pahitnya percintaan. Namun nama wanita itu akan selalu melekat dalam kehidupan Sang Hina dan menjadi nama dari Blog yang anda baca saat ini. Pada saat ini Sang Hina masih terus berusaha dalam mencari permatanya walaupun tidak sesering pada masa-masa lalu. Sekian cerita yang dapat penulis bagikan, semoga tulisan ini dapat menghibur pembaca semuanya. Intinya tidak ada kata MENYERAH dalam sebuah usaha, termasuk usaha dalam mendapatkan cinta. Karena kita ini sudah mendapatkan lebel "Pemenang" sejak kita masih berbentuk sperma hingga membentuk janin. Bayangkan apabila kita (pada bentuk sperma) menyerah untuk membuahi sel telur, apakah kita bisa terlahir di muka bumi ini ?. Kita sudah berhasil mengalahkan ribuan sel sperma yang siap membuahi sel telur sehingga kita mendapatkan lebel "Pemenang". Dan untuk jadi seorang pemenang itu membutuhkan usaha yang keras dan sikap pantang menyerah. 
Salam,,,

Senin, 19 September 2016

UANG BUKANLAH AWAL DARI SEBUAH USAHA


Banyak yang mengira bahwa "jika kita tidak punya uang, maka kita tidak akan bisa memiliki atau menciptakan usaha yang kita inginkan". Akan tetapi pernyataan itu telah dibantah dalam salah satu buku tentang modul kewirausahaan. Didalam buku tersebut dijelaskan bahwa setiap manusia memiliki sesuatu yang sudah di Karuniakan oleh Alloh swt kepada mereka. Sesuatu itu lebih berharga dibandingkan dengan uang sebanyak apapun. Yang dimaksud dengan "sesuatu" itu ialah otak. Otak sudah ada ketika manusia masih ada di dalam rahim ibunya. Dan lebih hebatnya lagi, otak ini dapat berkembang sesuai dengan keinginan dan usaha si pemiliknya. Didalam kewirausahaan ada 2 modal awal untuk membentuk mental seorang pengusaha menjadi pengusaha yang sukses. Modal yang pertama ialah "berpikir perubahan", inti dari "berpikir perubahan ialah keinginan yang kuat  untuk melepaskan diri dari zona atau keadaan yang membuatnya nyaman. Dan modal yang kedua ialah "berpikir kreatif", intinya ialah kemampuan seseorang yang mau berpikir sesuatu yang beda dari biasanya (out of the box). Dua modal ini tergantung pada usaha manusia untuk mengembangkan kemampuan otaknya. Selain itu dua modal ini pula mampu mengalahkan eksistensi uang sebagai awal dari sebuah usaha. Banyak sekali fakta yang menunjukkan bahwa suatu perusahaan yang mempunyai modal besar tapi tidak mampu bertahan lama karena tak kuasa dalam bersaing di dunia usaha. Dan juga ada sebuah usaha yang memiliki modal pas pasan tapi usahanya selalu berkembang. Hal inilah yang menyebabkan eksistensi uang sebagai syarat utama usaha menjadi hancur. Jadi apakah anda semua masih merasa ragu untuk mewujudkan sebuah usaha yang anda inginkan hanya karena keterbatasan modal ???. Think again, karena uang itu bukan merupakan tujuan dari sebuah usaha melainkan akibat dari usaha yang kita lakukan.
Thanks to Ibu Laily Rahmah dan semua dosen² Psikologi Unissula yang telah sudi membagi ilmunya untuk saya yang tidak tahu apa². :)

Senin, 01 Agustus 2016

The Real Creator and Motivator

Kali ini penulis tidak membahas tentang biografi penulis dulu. Maklum penulis lagi ingin nulis sesuatu hal yang tidak tentang penulis namun ada kaitannya dengan penulis. Langsung saja, beliau ialah salah satu dosen penulis di Fakultas Psikologi Unissula Semarang. Nama lengkap beliau ialah Bpk Abdurrohim, S. Psi, M. Psi. Namun beliau akrab dengan panggilan Pak Iim. Beliau berasal dari kota Kudus Jawa Tengah, Strata 1 beliau berada di kota Surakarta, sedangkan strata 2 beliau berada di kota Yogyakarta. Mungkin cukup itu saja yang penulis jabarkan tentang jati diri beliau.
Beliau saat ini menjadi pembimbing Skripsi penulis, beliau membimbing penulis dengan penuh kesabaran. Kelebihan beliau dibandingkan dengan dosen yang lain adalah beliau siap menerima bimbingan di rumah beliau mulai sekitar pukul 20:00 WIB hingga pukul 04:30 WIB. Kebanyakan anak bimbingan beliau adalah mahasiswa yang tidak rajin atau malas. Prinsip beliau ialah ingin meluluskan semua bimbingannya pada bulan Oktober 2016.  Sebab itu beliau mau menerima bimbingan pada waktu yang "tidak biasa".  Prinsip beliau yang mulia didukung dengan pribadi beliau yang TEGAS dan konsisten membuat semua anak bimbingannya yang malas berubah menjadi mahasiswa yang rajin (kecuali penulis, hehehe).  Rata-rata anak bimbingan Pak Iim sudah memasuki Bab 4-5 dalam membuat Skripsinya. Walaupun terkadang ada beberapa OKNUM yang menjelekkan nama baik beliau yaitu dengan menyebar GOSIP bahwa beliaulah yang membuatkan Skripsi anak bimbimngannya, "kami" tetap tidak akan menggubrisnya, karna kami yang menjalankan dan merasakan betapa perjuangan beliau untuk mewujudkan Prinsip beliau tersebut. Setiap malam kami rela memutar otak hingga pagi hari, mencari data hingga menhabiskan waktu 2 minggu dan coretan coretan revisi juga kami lakukan. Hal ini membuktikan bahwa GOSIP oknum-oknum itu TIDAK BENAR. Kami bisa cepat mengerjakan Skripsi itu karna Motivasi yang diberikan beliau serta usaha kami sendiri. Jadi "TUTUP MULUTMU JIKA KAMU TIDAK TAHU APA YANG KAMU UCAPKAN".  Saya masih ingat salah satu motivasi beliau pada say yang berbunyi " Saya sudah  ikhlas kamu meninggalkan Bimbingan Skripsi sekitar 2 bulan karena PKM, jadi saya tidak akan ijinkan lagi jika kamu menunda-nunda Skripsi dengan alasan apapun, kecuali kamu mau lulus bulan April 2016".  Kata-kata tersebut seakan-akan tidak pernah hilang dari pendengaran penulis. Hingga penulis memutuskan untuk bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan penulis dalam menyusun Skripsi. Pengorbanan beliau yang bisa dibilang lain dari dosen pembimbing lainnya itu menjadikan kondisi fisik beliaupun melemah. Saat ini kondisi beliau sedang tidak fit atau sedang sakit. Salah satu bukti lagi tentang pengorbanan beliau ialah walaupun beliau sedang sakit, beliau tetap mengijinkan anak bimbingannya untuk bimbingan Skripsi pukul 20:00 WIB hingga 01:00 WIB. Bagaimana, masihkah kalian memandang "rendah" Beliau dan juga kami selaku anak bimbingan beliau???
Maafkan semua kesalahan kami pak, semoga bapak selalu diberikan kesehatan oleh Alloh swt,,,,,  Aamiin.

Kamis, 28 Juli 2016

Biografi Sang Hina Part 2 "Air dalam Batu"

Salam,,,
Berhubung ada seseorang yang tidak mau disebutkan namanya tertarik pada catatan penulis dengan judul "Biografi Sang Hina" dan meminta penulis untuk melanjutkan ceritanya. Maka penulis akan mencoba untuk mewujudkan permintaan orang tersebut, karena menurut penulis tiada bayaran yang besar selain suatu penghargaan.
Baiklah, tanpa memperpanjang waktu dan kata, penulis akan memulai catatan kali ini sambil mengingat apa yang harus ditulis, hehe(red).
Penulis akan mengawalinya sewaktu penulis masuk perkuliahan yang sudah penulis ceritakan di tulisan Biografi Sang Hina pertama. Layaknya seorang anak kecil yang dibelikan mainan oleh orang tuanya, begitu juga kebahagiaan yang dirasakan penulis sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di kelas. Dosen pertama yang menyambut penulis serta teman-teman penulis ialah Ibu DCH (Sengaja disamarkan biar tidak mengandung pencemaran nama baik). Beliaulah yang  menjadi Dosen Wali penulis hingga saat ini. Beliau mulai menanyai satu persatu termasuk penulis untuk sekedar berkenalan dan mengisi pelajaran pertama. Pada saat Beliau menunjuk penulis untuk menceritakan masalalu penulis, penulis tanpa sengaja meneteskan air mata karena penulis mau tidak mau harus mengingat kenangan atau catatan yang hitam  kelam untuk bercerita. Dengan kelopak mata yang belum mengering dan serpihan serpihan masalalu yang mulai nampak, penulis memulai ceritanya.
Salah satu kenangan buruk yang terjadi pada masalalu penulis ialah ketika penulis diasingkan oleh satu kelas pada saat SMA (Baca Biografi Sang Hina Part 1). Namun, ternyata jauh sebelum kejadian itu, penulis juga mempunyai kenangan yang lebih buruk daripada kenangan sewaktu SMA tersebut. Penulis merupakan anak ke 4 dari 5 bersaudara. Jarak antara penulis dengan adik penulis cukup jauh, yaitu sekitar 8 tahun. Dengan jarak yang sangat jauh tersebut, penulis sempat merasakan betapa bahagianya menjadi anak terakhir cukup lama. Penulis seakan akan tidak pernah kehausan kasih sayang setiap harinya. Namun hal itu mulai berubah ketika adik penulis lahir di muka bumi. Kasih sayang yang slalu diberikan pada penulis oleh orangtua penulis seakan akan hilang tanpa bekas. Hal itulah yang menyebabkan penulis sangat membenci adiknya itu. Hal lain yang membuat kebencian penulis pada adiknya semakin membesar yaitu ketika adik penulis menangis, maka selalu penulis yang disalahkan atas kejadian itu. Hinaan, siraman air, hingga pemukulan orangtua pada penulis yang mengakibatkan sapu patah seakan menjadi sajian rutin ketika orangtua mengetahui adik penulis menangis. Penulispun sering kejar kejaran dengan orangtua penulis hanya untuk menjauhi dampak dari perbuatan yang tidak penulis lakukan itu. Namanya anak kecil pasti sering menangis!!!  Itulah yang tidak dipahami oleh orang tua penulis dan alhasil penulis selalu menjadi yang bersalah ketika adiknya menangis. Bahkan penulis juga pernah kabur dari rumah selama 3 hari karena peristiwa atau perlakukan orangtua penulis pada penulis tersebut. Hingga pada suatu hari,  peristiwa yang hingga saat ini penulis tidak bisa melupakannya terjadi. Pagi layaknya pagi yang terjadi setiap harinya sebelum menjadi kelam ketika penulis mendengar adiknya menangis sangat keras sekali. Penulis yang kebingungan karena penulis tahu akibat jika orangtua penulis mengetahui bahwa adiknya menangis, memutuskan untuk berlari kearah adiknya yang berjarak sekitar 7 meter dari penulis dan menendang kepala adiknya dengan sangat keras,  sehingga kepala adiknyapun terbentur lantai dengan sangat keras pula,  sehingga mengakibatkan tangisan semakin keras. Perasaan bersalah dan takut menyelimuti penulis sesudah kejadian tersebut terjadi. Hingga penulis memutuskan untuk lari dari rumah dan menginap di rumah temanya selama beberapa hari. Semenjak kejadian itu, selama satu minggu penulis tidak pernah diajak bicara oleh orang tuanya. Hingga akhirnya penulispun masuk SMA yang berada jauh diluar desanya. Hal yang membuat penulis kembali teringat akan kejadian tersebut walaupun sudah berlalu sekitar 2-3 tahun utu ialah ketika penulis melihat anak anak kecil bermain dengan kakaknya di halaman Menara Kudus (lokasi tempat tinggal penulis selama SMA tidak jauh dari Menara Kudus, sehingga penulis sering kesitu walau hanya sekedar untuk meminum kopi, hehe). Setelah penulis menyaksikan kebahagiaan antara kakak dan adik yang terjadi didepan matanya, penulis mulai berfikir "kasihan adikku yang tidak pernah merasakan kebahagiaan dari kakaknya selama kakaknya di rumah".  Sesudah melalui instropeksi diri yang sangat dalam, penulis mulai bertekat untuk membahagiana adiknya. Salah satunya yaitu penulis selalu membelikan adiknya oleh oleh ketika penulis liburan atau rekreasi walaupun penulis sendiri tidak membeli apa apa untuk dirinya. Penulis yang masih bercerita seakan akan tak mampu membendung air mata ketika mengingat kejadian kelam tersebut sehingga semua mata yang ada di kelas tersebut tertuju pada penulis tidak terkecuali mata sang Dosen Wali Penulis.
Biarkan semua cerita penulis menjadi pelajaran bagi kita semua bahwasanya kita sebagai manusia seharusnya slalu memberikan kebahagiaan pada manusia lain terlebih untuk orangtua dan keluarga. Penulis juga meminta maaf atas perlakuan penulis pada sang adik yang jauh dari rasa kemanusiaan. Selain itu, penulis juga ingin memberitahu bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah bahkan akan memperpanjang masalah. Penulis tidak akan menyalahkan perbuatan orangtua penulis yang sangat keras dan kasar pada penulis karena penulis sadar bahwa sepenuhnya penulis yang salah pada saat itu. Selayaknya sang kesatria yang menjadi pelindung bagi orang yang lemah, begitupun juga seorang kakak yang selalu melindungi sang adik. Biarlah air mata penulis menjadi layaknya air yang berada dalam sifat keras penulis sekeras batu.
Mungkin hanya itu yang dapat penulis haturkan pada pembaca. Penulis yakin banyak kesalahan dalam tulisan ini mulai dari format penulisan hingga perilaku atau kata kata penulis yang keras dan jangan sampai ada diantara dari kita yang melakukannya.
Hormat Penulis
    Sang Hina