Kali ini penulis akan menceritakan tentang perjalanan cinta dari Sang Hina. Dimulai ketika Sang Hina memasuki Sekolah Dasar atau SD. SD Sang Hina masih dalam lingkup desa yang telah memberikan tempat hidup bagi Sang Hina. Ketika Sang Hina memasuki kelas 3 SD, Sang Hina baru menyadari bahwa hatinya telah di takhlukkan oleh seorang wanita. Namun, layaknya punuk yang merindukan rembulan, begitupun yang terjadi pada kehidupan Sang Hina saat itu. Wanita yang mampu memasuki relung hatinya menjadi seorang bunga kelas (wanita yang di senangi satu kelas). Sehingga Sang Hina tak mampu menggapainya, karena Sang Hina sadar akan dirinya yang baik secara fisik dan ekonomi masih serba kekurangan. Akhirnya Sang Hina hanya mampu melihat dan mengagumi wanita tersebut dari kejauhan. Perasaan Sang Hina terhadap wanita itu usai ketika Sang Hina memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama atau SMP, karena sekolah wanita tersebut jauh diluar desa Sang Hina. Namun berhubung pada kali ini penulis berniat untuk menulis kisah cinta dari Sang Hina, maka kicah cinta Sang Hinapun tidak akan berhenti sampai disini, hehe (red). Penulis akan melanjutkan kisah percintaan Sang Hina, khususnya pada saat Sang Hina SMP. Hari-hari wal masuk SMP, Sang Hina tidak menemukan seorangpun wanita yang dapat menggantikan posisi dari seorang bidaari yang menjadi cinta pertama dari Sang Hina. Hingga pada suatu hari, ketika hari perpisahan akan menjemput hari pertemuan, barulah Sang Hina tersadar bahwa bidadari yang dicarinya ternyata ada didepan mata. Ya, bidadari yang selama ini dicari oleh Sang Hina ternyata selama 3 tahun bersama Sang Hina atau dengan kata lain masih dalam satu kelas yang sama. Akhirnya diujung tahun dari kegiatan belajar mengajar, Sang Hina mulai memanahkan busur panahnya untuk dapat menggapai bidadarinya. Mungkin para pembaca masih ingat dengan potongan lagu ini,,, " Hawa tercipta di dunia, untuk menemami sang Adam, begitu juga dirimu, tercipta tuk temani aku ". Bagaimana, masih ingatkan dengan lagu itu ? Ya, lagu yang dibawakan oleh Group Band Dewa 19 yang masih hits sampai sekarang menjadi senjata awal dari Sang Hina untuk menamcapkan busur cinta di hati sang pujaan. Namun, senjata itu bagaikan peluru yang mencoba menerebos lapisan baja alias GATOT atau gagal total. Bukan Sang Hina apabila menyerah hanya karena satu senjata tak mampu menaklukkan musuh ( kalau ini imajinasinya jangan ke arah perang ya, tapi kearah pengorbanan dalam hal percintaan, hehe ). Setelah Sang Hina menyadari bahwa usaha pertamanya gagal total, Sang Hinapun merencanakan strategi ke dua. Sang Hina mencari situasi dan kondisi yang pas untuk menyatakan perasaannya secara langsung ( oh ya untuk lirik lagu diatas, Sang Hina menyampaikannya lewat tulisan, karena Sang Hina masih malu-malu untuk menyatakan secara terang-terangan, hehe). Akhirnya waktu yang dinantipun tiba, biasanya setiap daerah memiliki cara masing-masing untuk memperingati hari kelahirannya. Kalau di desa Sang Hina, hari lahir desa diperingati dengan acara wayang kulit satu hari satu malam, kalau di desa pembaca bagaimana perayaannya ? ( silahkan ditulis di kolom komentar :) ). Pada hari perayaan kelahiran desa itulah Sang Hina melancarkan aksi untuk mendapatkan sang pujaan hati atau sang permata hati. Aksi itu dimulai ketika sang permata memasuki kawasan perayaan tersebut. Sang Hina yang memiliki banyak teman meminta bantuan teman-temannya untuk menyebar guna mencari keberadaan dari sang permata. Sedangkan Sang Hina menunggu dengan sabar di salah satu rumah yang berada didekat lokasi perayaan itu. Akhirnya salah satu dari teman Sang Hina yang disebar melaporkan bahwa sang permata tengah berada di salah satu lorong dekat lokasi perayaan itu. Namun teman Sang Hina itu juga menuturkan bahwa sang permata tidak sendirian alias ada orang lain, tapi teman Sang Hina tidak bisa melihat dengan jelas apakah orang yang bersama sang permata itu berjenis kelamin laki-laki atau perempuan karena keadaan lorong yang cukup gelap. Setelah mendapatkan laporan, Sang Hinapun bergegas untuk menyusul permatanya dengan dikawal beberapa teman dari Sang Hina. Sesudah sampai ditujuan, Sang Hinapun tersadar bahwa yang bersama sang permata adalah seorang laki-laki. Pada saat itu Sang Hina mulai curiga, mengapa sang permata bersama laki-laki ditempat sepi dan gelap seperti itu. Rasa keingintahuan yang besar mendorong Sang Hina untuk merapatkan barisan ke arah dua insan itu. Dengan sedikit usaha, akhirnya Sang Hina berhasil menyusup dengan jarak sekitar 5 meter dari dua insan itu tanpa sepengetahuan mereka. Dalam sayup-sayup malam dengan diiringi lantunan syair dari sang jangkrik, Sang Hina mendengar dari mulut laki-laki itu terucap kata-kata yang tidak ingin terdengar oleh Sang Hina. Kata-kata itu adalah kata-kata yang memiliki makna pernyataan suatu perasaan pada orang yang di cintainya. Setelah mendengar kata-kata itu, Sang Hinapun lari pulang ke rumah tanpa memperdulikan apakah mereka mengetahui keberadaan Sang Hina atau tidak. Sesampainya di rumah, Sang Hina langsung masuk dalam kamar dan menangis histeris ditemani bantal guling yang menyumbat mulut supaya meredam suara yang keluar dari tangisan Sang Hina. Mulai detik itu, Sang Hina akhirnya menyadari bahwa dia telah terlambat untuk menyatakan cintanya dan Sang Hina telah menyerah dalam berjuan mendapatkan permatanya. Sungguh malang nasib Sang Hina, karena dalam urusan cinta dia selalu merasakan pahitnya penderitaan dari SD hingga SMP. Memasuki jenjang SMA, Sang Hina memutuskan untuk merantau ke kota orang guna mencari ilmu dan mencari cinta atau permata (terpaksa ditambahi "mencari cinta atau permata, karena memang bagian ini membahas hal tersebut :)"). Waktu Sang Hina kelas X, Sang Hina belum menemukan permata yang dapat mengisi relung hatinya. Hingga pada saat Sang Hina memasuki kelas XI-IPS3, Sang Hina mulai menemukan permatanya. Sedikit deskripsi dari permata ini, dia anak yang sangat pendiam (lebih pantas di sebut cuek), memiliki kecerdasan rata-rata (dilihat dari nilai raport yang selisih sedikit dengan Sang Hina :) ), kalau dibilang cantik ya pasti bilangnya cantik karena kecantikan seseorang bersifat relatif serta subjektif :). Dalam usaha mendapatkan sang permata, kali ini Sang Hina melakukan dengan cara yang mungkin secara akal atau pikiran tidak bisa menerimanya. Sang Hina menempuh cara yang melibatkan suatu amalan kebatinan dalam usahanya kali ini. Bukannya apa-apa, memang pada waktu itu Sang Hina sedang terpesona dengan ilmu kebatinan, hehe. Rencanapun berjalan mulus dengan diiringan do'a-do'a disetiap usahanya dalam menemukan sang permata. Akhirnya, Sang Hinapun dapat merasakan indahnya cinta pada saat itu. Namun Sang Hina lupa sebuah pantangan yang mengakibatkan keindahan tersebut berubah menjadi dendam yang tidak dapat dilupakan dan dimaafkan. Akhirnya sang permatapun pergi meninggalkan Sang Hina dengan kemarahan yang baru dima'afkan ketika Sang Hina memasuki semester 5 di perkuliahan Sang Hina. Selama jeda waktu kelulusan SMA Sang Hina dan masa perkuliahan Sang Hina, akhirnya Sang Hina menemukan satu permata yang mau menerima Sang Hina apa adanya. Namun hubungan manis itu hanya berjalan sekitar 3/4 bulan saja dikarenakan orang tua dari Sang Hina tidak merestui hubungan tersebut. Masuk ke zaman ketika Sang Hina pertama kali menginjakan kaki di pusat pemerintahan Jawa Tengah yaitu Semarang. Pertama kali masuk dalam perkuliahan, Universitas Sang Hina mengadakan acara yang bernama "Pekan Ta'aruf". Acara tersebut bertujuan untuk mengenalkan seluk beluk Universitas pada seluruh mahasiswa yang baru masuk. Pada hari pertama pekan ta'aruf, Sang Hina dibuat terkagum-kagum dengan sesosok wanita dari kota tempat Sang Hina menggali ilmu ketika SMA. Wanita itu begitu anggun dan mempesona, sehingga membuat mata Sang Hina tak berkedip sedikitpun. Nama wanita itu ialah ASN (inisial saja ya, takut dianya baca :) ), dia sangat sopan, religius dan berpengetahuan luas khususnya dibidang organisasi, karena dia sudah berorganisasi ketika dia baru memasuki SD. Perjalanan cinta Sang Hina kali ini berjalan sangat alot karena sang permata sudah memberitahu bahwa ia tidak akan menjalin sebuah hubungan percintaan sebelum ia lulus dan bekerja. Kalau dituliskan waktunya sekitar 6 tahun dari pertama ia menginjakkan kaki diperkuliahan. Dengan tekat baja, Sang Hina menunggu sudah hampir 5 tahun (pada saat ini). Namun dalam jangka watu tersebut Sang Hina tetap melancarkan aksinya untuk mencoba mendekatkan diri dengan sang permata (kali ini sudah tidak menggunakan ilmu kebatian alias murni dari usaha Sang Hina karena Sang Hina sudah tobat :) ). Hingga pada suatu ketika dengan terang-terangan sang permata menolak cinta dari Sang Hina yang membuat Sang Hina jatuh tersungkur kembali dalam pahitnya percintaan. Namun nama wanita itu akan selalu melekat dalam kehidupan Sang Hina dan menjadi nama dari Blog yang anda baca saat ini. Pada saat ini Sang Hina masih terus berusaha dalam mencari permatanya walaupun tidak sesering pada masa-masa lalu. Sekian cerita yang dapat penulis bagikan, semoga tulisan ini dapat menghibur pembaca semuanya. Intinya tidak ada kata MENYERAH dalam sebuah usaha, termasuk usaha dalam mendapatkan cinta. Karena kita ini sudah mendapatkan lebel "Pemenang" sejak kita masih berbentuk sperma hingga membentuk janin. Bayangkan apabila kita (pada bentuk sperma) menyerah untuk membuahi sel telur, apakah kita bisa terlahir di muka bumi ini ?. Kita sudah berhasil mengalahkan ribuan sel sperma yang siap membuahi sel telur sehingga kita mendapatkan lebel "Pemenang". Dan untuk jadi seorang pemenang itu membutuhkan usaha yang keras dan sikap pantang menyerah.
Salam,,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar