Salam keselamatan untuk
kita semua, terutama untuk para pembaca yang telah sudi menyambangi blog saya
dan yang telah rela menyisakan waktunya hanya untuk sekedar membaca tulisan
saya ini. Sesuai dengan judul part kali ini yaitu “Maut Yang Terlewat”, disini
penulis akan menceritakan beberapa kisah dari Sang Hina yang berhubungan dengan
MAUT. Dari judul saja mungkin para pembaca sudah mengira
bahwa kisah kali ini akan menjurus pada KEMATIAN. Mungkin persepsi para pembaca sama
seperti maksud atau isi dari tulisan kali ini, namun pembaca juga harus
memperhatikan kata dalam judul setelah kata MAUT ya, hehehe (red). Kata “Yang
Terlewat” berarti Sang Hina tidak akan mati dalam kisah ini, kalau Sang Hina
mati, maka tidak akan ada part-part selanjutnya alias The End. Saya tidak akan berpanjang kali lebar lagi, karena disini
bukan tempat anda belajar rumus bangunan persegi panjang, hehehe (red).
Mungkin pembaca yang
sudah mengikuti kisah Sang Hina dari part 1 hingga 3 sudah mengetahui bahwa
Sang Hina hanyalah anak desa dan dari keluarga yang sangat sederhana. Sekilas
info mengenai desa Sang Hina, sebuah desa yang memiliki nama unik, masyarakat
unik, luas yang bisa dikatakan melebihi ukuran desa-desa sebelahnya dan
beberapa aliran sungai dari yang kecil hingga yang besar menambah keunikan dari
desa Sang Hina ini. Nama desa dari Sang Hina adalah desa P (nama disamarkan
supaya tidak menimbulkan SARA), yang mirip sekali dengan salah satu material
bangunan. Nama desa ini diambil karena pada zaman dahulu lokasi dari desa ini
adalah pesisir pantai (menurut cerita dari para nenek moyang, hehe). Walaupun
terhitung sebagai desa, sebagian besar masyarakat yang bertempat tinggal di
daerah tersebut memiliki selera khususnya didalam bidang life style atau gaya hidup yang tidak kalah mewah dengan orang
perkotaan. Anda tidak percaya ? tapi fakta-fakta menunjukkan bahwa memang
keadaan masyarakat desa tersebut seperti itu, salah satunya ialah ketika ada
seorang laki-laki ingin menikahi wanita desa tersebut, minimal laki-laki itu
harus menyiapkan beberapa mas kain sebagai berikut: perabotan dapur (panci,
kompor, penggoreng, dll), perabotan rumah seperti lemari dan kulkas, emas
sepeti anting-anting, kalung dan gelang, hingga minimal satu sepeda motor
(walaupun ada juga yang memberikan mobil, tapi rata-rata masih memberikan
motor). Semua benda yang telah dijelaskan diatas seakan menjadi benda yang
wajib dibawa bagi mempelai pria jika ingin mempersunting wanita didaerah itu.
Padahal seharusnya yang paling wajib dalam pernikahan ialah ijab qobulnya,
sedangkan mahar itu bisa berwujud banyak hal seperti hafalan Al-Qur’an, uang
10.000 rupiah dan lain sebagainya (asal dua belah pihak ikhlas dan ridlo,
hehe). Sedangkan luas dari desa Sang Hina ini bisa mencapai hampir 2 sampai 3
kali lipat dari desa-desa sebelahnya.
Diatas sudah dijelaskan
bahwa desa dari Sang Hina juga di apit oleh beberapa sungai baik yang besar
maupun kecil, ada satu sungai besar dan empat sungai kecil di desa itu. Sungai
besar memiliki nama sungai K (nama yang ngetrent diwilayah itu), sedangkan
sungai yang kecil memiliki nama sebagai berikut: P, E, L dan D. Kejadian
pertama bertempat di salah satu sungai kecil yang bernama L. Waktu itu Sang
Hina masih berumur sekitar 5 tahun, berhubung umur Sang Hina masih tergolong
dalam anak-anak sehingga Sang Hina belum bisa berenang pada waktu itu. Akan
tetapi akibat bujukan dan hinaan dari teman-teman Sang Hina yang berumur lebih
tua membuat Sang Hina memutuskan untuk ikut turun ke sungai itu atau bahasa
kerennya melu njegor, tanpa berfikir
apakah dia bisa berenang atau tidak. Akhirnya kejadian yang tidak diinginkan
itupun terjadi, Sang Hina yang tidak mampu berenang tenggelam dalam sungai yang
memiliki kedalam sekitar dua meter tersebut (tenggelam is Kelelep). Kejadian
tersebut sontak membuat panik semua teman-teman Sang Hina yang ikut mandi
tersebut, sangking paniknya semua teman-teman Sang Hina pergi ke desa untuk
meminta bantuan (jarak sungai dan desa sekitar 500m, namun sungai itu secara
teritorial masih ikut desa Sang Hina). Sang Hina yang sudah tenggelam selama
beberapa menit didalam sungai itu akhirnya hanya bisa pasrah dan berdoa supaya
Tuhan menyelamatkannya yang sudah tidak berdaya didasar sungai. Akhirnya do’a
Sang Hina dikabulkan oleh Tuhan lewat seseorang yang mau mandi di lokasi dimana
Sang Hina tenggelam, Sang Hina yang mendengar suara dari dalam air akibat
pergesekan antara benda padat (orang) dengan benda cair (air sungai) itu
berusaha meminta bantuan dengan cara merayap-rayap didasar sungai dengan nafas
yang tersisa. Perjuangan Sang Hina berbuah manis ketika tangannya berhasil
menggapai salah satu kaki dari orang yang mandi tersebut, orang yang sedang
mandi tersebut sangat kaget ketika Sang Hina berhasil menggapai kakinya dan
mengangkat kakinya ke permukaan sehingga Sang Hinapun terselamatkan. Dengan
tenaga yang tersisa, Sang Hina mengucapkan terimakasih pada orang tersebut.
Bagaimana dengan kejadian “MAUT” yang pertama ini ? Apakah sudah membuat
perasaan anda campur aduk antara kesal karena kebodohan Sang Hina yang nekat
masuk dalam sungai dan kasihan karena Sang Hina terdampar di dasar sungai
beberapa menit lamanya ?. Tenang saja, karena kisah itu hanya salah satu dari
kisah “Maut Yang Terlewat”, masih ada beberapa kisah lagi yang hampir merenggut
nyawa dari Sang Hina.
Lanjut ke kisah
berikutnya, TKP masih sama yaitu di sungai, namun kali ini terjadi di sungai
yang bernama E. Waktu itu Sang Hina sudah memasuki kelas 3 SD, berhubung Sang
Hina sudah beranjak besar, kemampuan berenang dari Sang Hinapun ikut meningkat
sehingga Sang Hina tidak takut lagi untuk berenang di sungai lagi. Pertanyaanya
adalah kenapa Sang Hina dikatakan hampir meninggal di sungai ketika dia sudah
mampu berenang dengan baaik ?. Kali ini bukan masalah bisa tidaknya Sang Hina
dalam berenang, namun lebih menjurus kearah MISTIS atau SUPRANATURAL. Ada salah satu makhluk
astral yang bertempat tinggal disungai-sungai yang biasanya menyeret
orang-orang yang sedang mandi diwilayah makhluk tersebut untuk dijadikan
sebagai “makanannya”. Makhluk itu dikenal dengan sebutan setan KALAP
oleh masyarakat sekitar. Kejadiannya bermula pada saat Sang Hina bersama dengan
teman-temannya memutuskan untuk mandi setelah seharian mengikuti pelajaran
olahraga di lapangan desa, Sang Hina dan teman-temannya yang sudah sangat
kepanasan karena terik matahari yang sangat panas langsung menjeburkan dirinya
di sungai E tersebut. Hingga pada saat Sang Hina menyelam dan tidak berselang
lama dikagetkan oleh adanya sebuah tangan dengan kuku yang sangat tajam serta
sangat kasar pada telapak tangannya menggapai kaki kiri dari Sang Hina. Sang
Hina yang kaget secara reflek menendang tangan tersebut dengan kaki kanannya
dan langsung berdiri di sungai itu (kedalaman sungai E tidak sedalam sungai L,
sehingga jika kita berdiri, sebagian dada dan kepala kita masih bisa berada
diatas permukaan air) sambil marah-marah karena Sang Hina mengira bahwa itu
ulah dari teman-temannya. Namun Sang Hina terdiam ketika ada salah satu
temannya memberitahu bahwa tidak ada satupun orang dibelakangnya. Kemudian Sang
Hina serta teman-temannya memutuskan untuk menyudahi kegiatan berenang
tersebut, setelah sampai daratan, Sang Hina dikagetkan dengan bekas luka yang
ada di kaki kirinya. Sang Hinapun kembali mengingat bahwa telapak tangang yang
memegang kaki kirinya memiliki tingkat kekasaran melebihi kekasaran telapak
orang pada umumnya. Pada lain waktu Sang Hina yang masih penasarang tentang
tangan kasar dan tajam itu akhirnya memutuskan untuk mencari tahu dengan
menanyai orang-orang yang berada di sekitar sungai E itu (lokasi sungai E
berada didalam desa). Jawaban dari semua orang yang ditanyai oleh Sang Hina
sama yaitu “itu adalah ulah hantu atau setan KALAP, karena memang sungai ini
angker dek”. Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih Seraaaaaaaaaaaaam, hehehe.
Kisah “MAUT YANG TERLEWAT”
terakhir terjadi ketika Sang Hina memasuki kelas 2 SMA (info tentang SMA Sang
Hina bisa dilihat di part-part sebelumnya). Kejadian tersebut terjadi ketika
Sang Hina diajak untuk membenarkan aliran listrik di PONPESnya oleh salah satu
ustadz Sang Hina. Sebelum membenarkan aliran listrik, ustadz Sang Hina
menyuruhnya untuk mematikan semua aliran listrik dari saklar. Setelah saklar
dimatikan dan ustadz Sang Hina memastikan bahwa sudah tidak ada aliran listrik
yang aktif akhirnya kegiatan pembenaran listrik tersebut dilaksanakan. Namun
sang ustad terkaget-kaget sewaktu Sang Hina kejang-kejang akibat tersetrum
listrik (coba pembaca bayangkan, aliran listrik yang mencukupi hampir 15
ruangan yang ada di PONPES tersebut memusat pada satu titik yaitu pada Sang
Hina. Betapa tinggi tegangannya dan betapa hebat sensasi kesetrumnya ?,
hehehe). Sang ustadz yang melihat kejadian itu langsung lari kearah saklar
listrik PONPES dan mematikan saklar yang tiba-tiba hidup itu. Masih menjadi
rahasia kenapa saklar yang sudah dimatikan bisa hidup atau on lagi.
Bagaima pembaca ?
Apakah pembaca sudah dag dig dug der ketika membaca kisah kali ini ?. Dalam
beberapa kisah yang telah anda baca, dapat diambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak
akan melupakan hambaNYA yang selalu ingat dengan Dia. Ini bukan berarti Sang
Hina adalah orang yang sholeh, namun karena sebelum kejadian-kejadian itu
terjadi, Sang Hina masih menyempatkan diri untuk berdo’a pada Tuhannya. Do’a
ialah salah satu wujud kita untuk mengingat Keberadaan dan Kebesaran Tuhan
kita. Semoga pembaca terhibur dengan tulisan penulis pada Biografi Sang Hina
Part 4 kali ini.
Salam Keselamatan untuk
kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar