Assalamu'alaikum, Selamat Datang dan Selamat Membaca

Rabu, 21 Desember 2016

Biografi Sang Hina Part 3 "Pencarian Permata"

Salam,,,
Kali ini penulis akan menceritakan tentang perjalanan cinta dari Sang Hina. Dimulai ketika Sang Hina memasuki Sekolah Dasar atau SD. SD Sang Hina masih dalam lingkup desa yang telah memberikan tempat hidup bagi Sang Hina. Ketika Sang Hina memasuki kelas 3 SD, Sang Hina baru menyadari bahwa hatinya telah di takhlukkan oleh seorang wanita. Namun, layaknya punuk yang merindukan rembulan, begitupun yang terjadi pada kehidupan Sang Hina saat itu. Wanita yang mampu memasuki relung hatinya menjadi seorang bunga kelas (wanita yang di senangi satu kelas). Sehingga Sang Hina tak mampu menggapainya, karena Sang Hina sadar akan dirinya yang baik secara fisik dan ekonomi masih serba kekurangan. Akhirnya Sang Hina hanya mampu melihat dan mengagumi wanita tersebut dari kejauhan. Perasaan Sang Hina terhadap wanita itu usai ketika Sang Hina memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama atau SMP, karena sekolah wanita tersebut jauh diluar desa Sang Hina. Namun berhubung pada kali ini penulis berniat untuk menulis kisah cinta dari Sang Hina, maka kicah cinta Sang Hinapun tidak akan berhenti sampai disini, hehe (red). Penulis akan melanjutkan kisah percintaan Sang Hina, khususnya pada saat Sang Hina SMP. Hari-hari wal masuk SMP, Sang Hina tidak menemukan seorangpun wanita yang dapat menggantikan posisi dari seorang bidaari yang menjadi cinta pertama dari Sang Hina. Hingga pada suatu hari, ketika hari perpisahan akan menjemput hari pertemuan, barulah Sang Hina tersadar bahwa bidadari yang dicarinya ternyata ada didepan mata. Ya, bidadari yang selama ini dicari oleh Sang Hina ternyata selama 3 tahun bersama Sang Hina atau dengan kata lain masih dalam satu kelas yang sama. Akhirnya diujung tahun dari kegiatan belajar mengajar, Sang Hina mulai memanahkan busur panahnya untuk dapat menggapai bidadarinya. Mungkin para pembaca masih ingat dengan potongan lagu ini,,, " Hawa tercipta di dunia, untuk menemami sang Adam, begitu juga dirimu, tercipta tuk temani aku ". Bagaimana, masih ingatkan dengan lagu itu ? Ya, lagu yang dibawakan oleh Group Band Dewa 19 yang masih hits sampai sekarang menjadi senjata awal dari Sang Hina untuk menamcapkan busur cinta di hati sang pujaan. Namun, senjata itu bagaikan peluru yang mencoba menerebos lapisan baja alias GATOT atau gagal total. Bukan Sang Hina apabila menyerah hanya karena satu senjata tak mampu menaklukkan musuh ( kalau ini imajinasinya jangan ke arah perang ya, tapi kearah pengorbanan dalam hal percintaan, hehe ). Setelah Sang Hina menyadari bahwa usaha pertamanya gagal total, Sang Hinapun merencanakan strategi ke dua. Sang Hina mencari situasi dan kondisi yang pas untuk menyatakan perasaannya secara langsung ( oh ya untuk lirik lagu diatas, Sang Hina menyampaikannya lewat tulisan, karena Sang Hina masih malu-malu untuk menyatakan secara terang-terangan, hehe). Akhirnya waktu yang dinantipun tiba, biasanya setiap daerah memiliki cara masing-masing untuk memperingati hari kelahirannya. Kalau di desa Sang Hina, hari lahir desa diperingati dengan acara wayang kulit satu hari satu malam, kalau di desa pembaca bagaimana perayaannya ? ( silahkan ditulis di kolom komentar :) ). Pada hari perayaan kelahiran desa itulah Sang Hina melancarkan aksi untuk mendapatkan sang pujaan hati atau sang permata hati. Aksi itu dimulai ketika sang permata memasuki kawasan perayaan tersebut. Sang Hina yang memiliki banyak teman meminta bantuan teman-temannya untuk menyebar guna mencari keberadaan dari sang permata. Sedangkan Sang Hina menunggu dengan sabar di salah satu rumah yang berada didekat lokasi perayaan itu. Akhirnya salah satu dari teman Sang Hina yang disebar melaporkan bahwa sang permata tengah berada di salah satu lorong dekat lokasi perayaan itu. Namun teman Sang Hina itu juga menuturkan bahwa sang permata tidak sendirian alias ada orang lain, tapi teman Sang Hina tidak bisa melihat dengan jelas apakah orang yang bersama sang permata itu berjenis kelamin laki-laki atau perempuan karena keadaan lorong yang cukup gelap. Setelah mendapatkan laporan, Sang Hinapun bergegas untuk menyusul permatanya dengan dikawal beberapa teman dari Sang Hina. Sesudah sampai ditujuan, Sang Hinapun tersadar bahwa yang bersama sang permata adalah seorang laki-laki. Pada saat itu Sang Hina mulai curiga, mengapa sang permata bersama laki-laki ditempat sepi dan gelap seperti itu. Rasa keingintahuan yang besar mendorong Sang Hina untuk merapatkan barisan ke arah dua insan itu. Dengan sedikit usaha, akhirnya Sang Hina berhasil menyusup dengan jarak sekitar 5 meter dari dua insan itu tanpa sepengetahuan mereka. Dalam sayup-sayup malam dengan diiringi lantunan syair dari sang jangkrik, Sang Hina mendengar dari mulut laki-laki itu terucap kata-kata yang tidak ingin terdengar oleh Sang Hina. Kata-kata itu adalah kata-kata yang memiliki makna pernyataan suatu perasaan pada orang yang di cintainya. Setelah mendengar kata-kata itu, Sang Hinapun lari pulang ke rumah tanpa memperdulikan apakah mereka mengetahui keberadaan Sang Hina atau tidak. Sesampainya di rumah, Sang Hina langsung masuk dalam kamar dan menangis histeris ditemani bantal guling yang menyumbat mulut supaya meredam suara yang keluar dari tangisan Sang Hina. Mulai detik itu, Sang Hina akhirnya menyadari bahwa dia telah terlambat untuk menyatakan cintanya dan Sang Hina telah menyerah dalam berjuan mendapatkan permatanya. Sungguh malang nasib Sang Hina, karena dalam urusan cinta dia selalu merasakan pahitnya penderitaan dari SD hingga SMP. Memasuki jenjang SMA, Sang Hina memutuskan untuk merantau ke kota orang guna mencari ilmu dan mencari cinta atau permata (terpaksa ditambahi "mencari cinta atau permata, karena memang bagian ini membahas hal tersebut :)"). Waktu Sang Hina kelas X, Sang Hina belum menemukan permata yang dapat mengisi relung hatinya. Hingga pada saat Sang Hina memasuki kelas XI-IPS3, Sang Hina mulai menemukan permatanya. Sedikit deskripsi dari permata ini, dia anak yang sangat pendiam (lebih pantas di sebut cuek), memiliki kecerdasan rata-rata (dilihat dari nilai raport yang selisih sedikit dengan Sang Hina :) ), kalau dibilang cantik ya pasti bilangnya cantik karena kecantikan seseorang bersifat relatif serta subjektif :). Dalam usaha mendapatkan sang permata, kali ini Sang Hina melakukan dengan cara yang mungkin secara akal atau pikiran tidak bisa menerimanya. Sang Hina menempuh cara yang melibatkan suatu amalan kebatinan dalam usahanya kali ini. Bukannya apa-apa, memang pada waktu itu Sang Hina sedang terpesona dengan ilmu kebatinan, hehe. Rencanapun berjalan mulus dengan diiringan do'a-do'a disetiap usahanya dalam menemukan sang permata. Akhirnya, Sang Hinapun dapat merasakan indahnya cinta pada saat itu. Namun Sang Hina lupa sebuah pantangan yang mengakibatkan keindahan tersebut berubah menjadi dendam yang tidak dapat dilupakan dan dimaafkan. Akhirnya sang permatapun pergi meninggalkan Sang Hina dengan kemarahan yang baru dima'afkan ketika Sang Hina memasuki semester 5 di perkuliahan Sang Hina. Selama jeda waktu kelulusan SMA Sang Hina dan masa perkuliahan Sang Hina, akhirnya Sang Hina menemukan satu permata yang mau menerima Sang Hina apa adanya. Namun hubungan manis itu hanya berjalan sekitar 3/4 bulan saja dikarenakan orang tua dari Sang Hina tidak merestui hubungan tersebut. Masuk ke zaman ketika Sang Hina pertama kali menginjakan kaki di pusat pemerintahan Jawa Tengah yaitu Semarang. Pertama kali masuk dalam perkuliahan, Universitas Sang Hina mengadakan acara yang bernama "Pekan Ta'aruf". Acara tersebut bertujuan untuk mengenalkan seluk beluk Universitas pada seluruh mahasiswa yang baru masuk. Pada hari pertama pekan ta'aruf, Sang Hina dibuat terkagum-kagum dengan sesosok wanita dari kota tempat Sang Hina menggali ilmu ketika SMA. Wanita itu begitu anggun dan mempesona, sehingga membuat mata Sang Hina tak berkedip sedikitpun. Nama wanita itu ialah ASN (inisial saja ya, takut dianya baca :) ), dia sangat sopan, religius dan berpengetahuan luas khususnya dibidang organisasi, karena dia sudah berorganisasi ketika dia baru memasuki SD. Perjalanan cinta Sang Hina kali ini berjalan sangat alot karena sang permata sudah memberitahu bahwa ia tidak akan menjalin sebuah hubungan percintaan sebelum ia lulus dan bekerja. Kalau dituliskan waktunya sekitar 6 tahun dari pertama ia menginjakkan kaki diperkuliahan. Dengan tekat baja, Sang Hina menunggu sudah hampir 5 tahun (pada saat ini). Namun dalam jangka watu tersebut Sang Hina tetap melancarkan aksinya untuk mencoba mendekatkan diri dengan sang permata (kali ini sudah tidak menggunakan ilmu kebatian alias murni dari usaha Sang Hina karena Sang Hina sudah tobat :) ). Hingga pada suatu ketika dengan terang-terangan sang permata menolak cinta dari Sang Hina yang membuat Sang Hina jatuh tersungkur kembali dalam pahitnya percintaan. Namun nama wanita itu akan selalu melekat dalam kehidupan Sang Hina dan menjadi nama dari Blog yang anda baca saat ini. Pada saat ini Sang Hina masih terus berusaha dalam mencari permatanya walaupun tidak sesering pada masa-masa lalu. Sekian cerita yang dapat penulis bagikan, semoga tulisan ini dapat menghibur pembaca semuanya. Intinya tidak ada kata MENYERAH dalam sebuah usaha, termasuk usaha dalam mendapatkan cinta. Karena kita ini sudah mendapatkan lebel "Pemenang" sejak kita masih berbentuk sperma hingga membentuk janin. Bayangkan apabila kita (pada bentuk sperma) menyerah untuk membuahi sel telur, apakah kita bisa terlahir di muka bumi ini ?. Kita sudah berhasil mengalahkan ribuan sel sperma yang siap membuahi sel telur sehingga kita mendapatkan lebel "Pemenang". Dan untuk jadi seorang pemenang itu membutuhkan usaha yang keras dan sikap pantang menyerah. 
Salam,,,

Senin, 19 September 2016

UANG BUKANLAH AWAL DARI SEBUAH USAHA


Banyak yang mengira bahwa "jika kita tidak punya uang, maka kita tidak akan bisa memiliki atau menciptakan usaha yang kita inginkan". Akan tetapi pernyataan itu telah dibantah dalam salah satu buku tentang modul kewirausahaan. Didalam buku tersebut dijelaskan bahwa setiap manusia memiliki sesuatu yang sudah di Karuniakan oleh Alloh swt kepada mereka. Sesuatu itu lebih berharga dibandingkan dengan uang sebanyak apapun. Yang dimaksud dengan "sesuatu" itu ialah otak. Otak sudah ada ketika manusia masih ada di dalam rahim ibunya. Dan lebih hebatnya lagi, otak ini dapat berkembang sesuai dengan keinginan dan usaha si pemiliknya. Didalam kewirausahaan ada 2 modal awal untuk membentuk mental seorang pengusaha menjadi pengusaha yang sukses. Modal yang pertama ialah "berpikir perubahan", inti dari "berpikir perubahan ialah keinginan yang kuat  untuk melepaskan diri dari zona atau keadaan yang membuatnya nyaman. Dan modal yang kedua ialah "berpikir kreatif", intinya ialah kemampuan seseorang yang mau berpikir sesuatu yang beda dari biasanya (out of the box). Dua modal ini tergantung pada usaha manusia untuk mengembangkan kemampuan otaknya. Selain itu dua modal ini pula mampu mengalahkan eksistensi uang sebagai awal dari sebuah usaha. Banyak sekali fakta yang menunjukkan bahwa suatu perusahaan yang mempunyai modal besar tapi tidak mampu bertahan lama karena tak kuasa dalam bersaing di dunia usaha. Dan juga ada sebuah usaha yang memiliki modal pas pasan tapi usahanya selalu berkembang. Hal inilah yang menyebabkan eksistensi uang sebagai syarat utama usaha menjadi hancur. Jadi apakah anda semua masih merasa ragu untuk mewujudkan sebuah usaha yang anda inginkan hanya karena keterbatasan modal ???. Think again, karena uang itu bukan merupakan tujuan dari sebuah usaha melainkan akibat dari usaha yang kita lakukan.
Thanks to Ibu Laily Rahmah dan semua dosen² Psikologi Unissula yang telah sudi membagi ilmunya untuk saya yang tidak tahu apa². :)

Senin, 01 Agustus 2016

The Real Creator and Motivator

Kali ini penulis tidak membahas tentang biografi penulis dulu. Maklum penulis lagi ingin nulis sesuatu hal yang tidak tentang penulis namun ada kaitannya dengan penulis. Langsung saja, beliau ialah salah satu dosen penulis di Fakultas Psikologi Unissula Semarang. Nama lengkap beliau ialah Bpk Abdurrohim, S. Psi, M. Psi. Namun beliau akrab dengan panggilan Pak Iim. Beliau berasal dari kota Kudus Jawa Tengah, Strata 1 beliau berada di kota Surakarta, sedangkan strata 2 beliau berada di kota Yogyakarta. Mungkin cukup itu saja yang penulis jabarkan tentang jati diri beliau.
Beliau saat ini menjadi pembimbing Skripsi penulis, beliau membimbing penulis dengan penuh kesabaran. Kelebihan beliau dibandingkan dengan dosen yang lain adalah beliau siap menerima bimbingan di rumah beliau mulai sekitar pukul 20:00 WIB hingga pukul 04:30 WIB. Kebanyakan anak bimbingan beliau adalah mahasiswa yang tidak rajin atau malas. Prinsip beliau ialah ingin meluluskan semua bimbingannya pada bulan Oktober 2016.  Sebab itu beliau mau menerima bimbingan pada waktu yang "tidak biasa".  Prinsip beliau yang mulia didukung dengan pribadi beliau yang TEGAS dan konsisten membuat semua anak bimbingannya yang malas berubah menjadi mahasiswa yang rajin (kecuali penulis, hehehe).  Rata-rata anak bimbingan Pak Iim sudah memasuki Bab 4-5 dalam membuat Skripsinya. Walaupun terkadang ada beberapa OKNUM yang menjelekkan nama baik beliau yaitu dengan menyebar GOSIP bahwa beliaulah yang membuatkan Skripsi anak bimbimngannya, "kami" tetap tidak akan menggubrisnya, karna kami yang menjalankan dan merasakan betapa perjuangan beliau untuk mewujudkan Prinsip beliau tersebut. Setiap malam kami rela memutar otak hingga pagi hari, mencari data hingga menhabiskan waktu 2 minggu dan coretan coretan revisi juga kami lakukan. Hal ini membuktikan bahwa GOSIP oknum-oknum itu TIDAK BENAR. Kami bisa cepat mengerjakan Skripsi itu karna Motivasi yang diberikan beliau serta usaha kami sendiri. Jadi "TUTUP MULUTMU JIKA KAMU TIDAK TAHU APA YANG KAMU UCAPKAN".  Saya masih ingat salah satu motivasi beliau pada say yang berbunyi " Saya sudah  ikhlas kamu meninggalkan Bimbingan Skripsi sekitar 2 bulan karena PKM, jadi saya tidak akan ijinkan lagi jika kamu menunda-nunda Skripsi dengan alasan apapun, kecuali kamu mau lulus bulan April 2016".  Kata-kata tersebut seakan-akan tidak pernah hilang dari pendengaran penulis. Hingga penulis memutuskan untuk bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan penulis dalam menyusun Skripsi. Pengorbanan beliau yang bisa dibilang lain dari dosen pembimbing lainnya itu menjadikan kondisi fisik beliaupun melemah. Saat ini kondisi beliau sedang tidak fit atau sedang sakit. Salah satu bukti lagi tentang pengorbanan beliau ialah walaupun beliau sedang sakit, beliau tetap mengijinkan anak bimbingannya untuk bimbingan Skripsi pukul 20:00 WIB hingga 01:00 WIB. Bagaimana, masihkah kalian memandang "rendah" Beliau dan juga kami selaku anak bimbingan beliau???
Maafkan semua kesalahan kami pak, semoga bapak selalu diberikan kesehatan oleh Alloh swt,,,,,  Aamiin.

Kamis, 28 Juli 2016

Biografi Sang Hina Part 2 "Air dalam Batu"

Salam,,,
Berhubung ada seseorang yang tidak mau disebutkan namanya tertarik pada catatan penulis dengan judul "Biografi Sang Hina" dan meminta penulis untuk melanjutkan ceritanya. Maka penulis akan mencoba untuk mewujudkan permintaan orang tersebut, karena menurut penulis tiada bayaran yang besar selain suatu penghargaan.
Baiklah, tanpa memperpanjang waktu dan kata, penulis akan memulai catatan kali ini sambil mengingat apa yang harus ditulis, hehe(red).
Penulis akan mengawalinya sewaktu penulis masuk perkuliahan yang sudah penulis ceritakan di tulisan Biografi Sang Hina pertama. Layaknya seorang anak kecil yang dibelikan mainan oleh orang tuanya, begitu juga kebahagiaan yang dirasakan penulis sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di kelas. Dosen pertama yang menyambut penulis serta teman-teman penulis ialah Ibu DCH (Sengaja disamarkan biar tidak mengandung pencemaran nama baik). Beliaulah yang  menjadi Dosen Wali penulis hingga saat ini. Beliau mulai menanyai satu persatu termasuk penulis untuk sekedar berkenalan dan mengisi pelajaran pertama. Pada saat Beliau menunjuk penulis untuk menceritakan masalalu penulis, penulis tanpa sengaja meneteskan air mata karena penulis mau tidak mau harus mengingat kenangan atau catatan yang hitam  kelam untuk bercerita. Dengan kelopak mata yang belum mengering dan serpihan serpihan masalalu yang mulai nampak, penulis memulai ceritanya.
Salah satu kenangan buruk yang terjadi pada masalalu penulis ialah ketika penulis diasingkan oleh satu kelas pada saat SMA (Baca Biografi Sang Hina Part 1). Namun, ternyata jauh sebelum kejadian itu, penulis juga mempunyai kenangan yang lebih buruk daripada kenangan sewaktu SMA tersebut. Penulis merupakan anak ke 4 dari 5 bersaudara. Jarak antara penulis dengan adik penulis cukup jauh, yaitu sekitar 8 tahun. Dengan jarak yang sangat jauh tersebut, penulis sempat merasakan betapa bahagianya menjadi anak terakhir cukup lama. Penulis seakan akan tidak pernah kehausan kasih sayang setiap harinya. Namun hal itu mulai berubah ketika adik penulis lahir di muka bumi. Kasih sayang yang slalu diberikan pada penulis oleh orangtua penulis seakan akan hilang tanpa bekas. Hal itulah yang menyebabkan penulis sangat membenci adiknya itu. Hal lain yang membuat kebencian penulis pada adiknya semakin membesar yaitu ketika adik penulis menangis, maka selalu penulis yang disalahkan atas kejadian itu. Hinaan, siraman air, hingga pemukulan orangtua pada penulis yang mengakibatkan sapu patah seakan menjadi sajian rutin ketika orangtua mengetahui adik penulis menangis. Penulispun sering kejar kejaran dengan orangtua penulis hanya untuk menjauhi dampak dari perbuatan yang tidak penulis lakukan itu. Namanya anak kecil pasti sering menangis!!!  Itulah yang tidak dipahami oleh orang tua penulis dan alhasil penulis selalu menjadi yang bersalah ketika adiknya menangis. Bahkan penulis juga pernah kabur dari rumah selama 3 hari karena peristiwa atau perlakukan orangtua penulis pada penulis tersebut. Hingga pada suatu hari,  peristiwa yang hingga saat ini penulis tidak bisa melupakannya terjadi. Pagi layaknya pagi yang terjadi setiap harinya sebelum menjadi kelam ketika penulis mendengar adiknya menangis sangat keras sekali. Penulis yang kebingungan karena penulis tahu akibat jika orangtua penulis mengetahui bahwa adiknya menangis, memutuskan untuk berlari kearah adiknya yang berjarak sekitar 7 meter dari penulis dan menendang kepala adiknya dengan sangat keras,  sehingga kepala adiknyapun terbentur lantai dengan sangat keras pula,  sehingga mengakibatkan tangisan semakin keras. Perasaan bersalah dan takut menyelimuti penulis sesudah kejadian tersebut terjadi. Hingga penulis memutuskan untuk lari dari rumah dan menginap di rumah temanya selama beberapa hari. Semenjak kejadian itu, selama satu minggu penulis tidak pernah diajak bicara oleh orang tuanya. Hingga akhirnya penulispun masuk SMA yang berada jauh diluar desanya. Hal yang membuat penulis kembali teringat akan kejadian tersebut walaupun sudah berlalu sekitar 2-3 tahun utu ialah ketika penulis melihat anak anak kecil bermain dengan kakaknya di halaman Menara Kudus (lokasi tempat tinggal penulis selama SMA tidak jauh dari Menara Kudus, sehingga penulis sering kesitu walau hanya sekedar untuk meminum kopi, hehe). Setelah penulis menyaksikan kebahagiaan antara kakak dan adik yang terjadi didepan matanya, penulis mulai berfikir "kasihan adikku yang tidak pernah merasakan kebahagiaan dari kakaknya selama kakaknya di rumah".  Sesudah melalui instropeksi diri yang sangat dalam, penulis mulai bertekat untuk membahagiana adiknya. Salah satunya yaitu penulis selalu membelikan adiknya oleh oleh ketika penulis liburan atau rekreasi walaupun penulis sendiri tidak membeli apa apa untuk dirinya. Penulis yang masih bercerita seakan akan tak mampu membendung air mata ketika mengingat kejadian kelam tersebut sehingga semua mata yang ada di kelas tersebut tertuju pada penulis tidak terkecuali mata sang Dosen Wali Penulis.
Biarkan semua cerita penulis menjadi pelajaran bagi kita semua bahwasanya kita sebagai manusia seharusnya slalu memberikan kebahagiaan pada manusia lain terlebih untuk orangtua dan keluarga. Penulis juga meminta maaf atas perlakuan penulis pada sang adik yang jauh dari rasa kemanusiaan. Selain itu, penulis juga ingin memberitahu bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah bahkan akan memperpanjang masalah. Penulis tidak akan menyalahkan perbuatan orangtua penulis yang sangat keras dan kasar pada penulis karena penulis sadar bahwa sepenuhnya penulis yang salah pada saat itu. Selayaknya sang kesatria yang menjadi pelindung bagi orang yang lemah, begitupun juga seorang kakak yang selalu melindungi sang adik. Biarlah air mata penulis menjadi layaknya air yang berada dalam sifat keras penulis sekeras batu.
Mungkin hanya itu yang dapat penulis haturkan pada pembaca. Penulis yakin banyak kesalahan dalam tulisan ini mulai dari format penulisan hingga perilaku atau kata kata penulis yang keras dan jangan sampai ada diantara dari kita yang melakukannya.
Hormat Penulis
    Sang Hina

Selasa, 23 Februari 2016

Biografi Sang Hina Part 1

Tulisan ini hanyalah berisi suatu hal yang mungkin tidak bermanfaat untuk semua orang. Tulisan ini hanya berisi tentang perjalanan hidup "Sang Hina" atau lebih tepatnya adalah pemilik blog ini. Saya langsung saja mulai dari saya akan dilahirkan oleh ibunda saya yang sangat saya banggakan. Ketika saya masih dalam kandungan bunda saya, salah satu Kyai ayah saya yang mungkin sudah di kenal oleh semua orang wafat. Nama Kyai ayah saya itu ialah Chamim Djazuli atau sering dikenal dengan Gus Miek. Selayaknya seorang santri yang ditinggal oleh Kyainya, Ayah saya langsung pergi ziarah ke makam beliau. Ketika ayah saya sampai di makam beliau, ayah saya langsung berdzikir dengan suatu amalan dzikir yang pernah diberikan oleh Gus Miek kepada ayah saya. Namun ketika jumlah dzikir itu belum selesai, ayah saya tertidur di makam Alm. Gus Miek tersebut karena perjalanan yang cukup jauh dari rumah saya ke makam beliau. Di dalam tidurnya, ayah saya di temui oleh sesosok yang sangat mirip dengan alm. Gus Miek. Beliau berpesan pada ayah saya bahwa bayi yang akan di lahirkan oleh istrinya atau bunda saya adalah seorang anak laki-laki. Selain menunjukkan jenis kelamin, alm. Juga memberikan nama untuk anak ayah saya kelak. Nama yang diberikan oleh alm. Dalam mimpi ayah saya adalah "Gus Chamim" sambil menunjuk sebuah nisan yang ada disamping ayah saya. Setelah bermimpi seperti itu, ayah saya langsung terbangun dan menyelesaikan dzikirnya serta melangkah pulang untuk menemani  bunda saya yang sedang hamil. Beberapa bulan kemudian sayapun lahir dan langsung diberi nama "Agus Chamim" oleh ayah saya. Ayah saya menambahkan huruf "A" didepannya karena menurut ayah saya, saya bukan anak seorang kyai yang sering dipanggil "Gus" oleh orang-orang. Saya memang lahir dari keluarga yang sangat sederhana yang hanya menjadi petani dan seorang guru honorer di yayasan swasta di desa saya. Sayapun mulai menjalani kehidupan saya di dunia yang katanya "fana" ini. Ketika saya TK kelas pagi, saya sempat terlibat pertengkaran yang mrngakibatkan saya keluar dari dunia persekolahan. Bertepatan dengan TK kelas pagi yang harus saya tinggalkan, TK kelas sore saya juga ikut saya tinggalkan karena saya tidak bisa baca tulis huruf hijaiyah atau huruf arab. Akibat kejadian itu, saya harus mengulang baik kelas TK pagi maupun kelas TK sore. Kehidupan SD hingga Mts atau SMP saya tidak ada yang istimewa. Saya menjalani kehidupan saya sama seperti anak-anak yang lain misalnya bermain, belajar kelompok, dan kegiatan umum lainnya. Hal menarik yang terjadi dalam kehidupan saya ialah ketika saya berhasil masuk dalam salah satu sekolah Favorit di daerah KUDUS. Saya termasuk orang yang beruntung bisa masuk sekolah tersebut karena saya sadar bahwa secara akademik saya masih kalah dengan teman-teman lain yang juga masuk kelas tersebut. Hal yang saya takutkan terjadi ketika saya memasuki awal semester 2 kelas X-8. Saya mulai di asingkan atau di isolasi oleh teman-teman sekelas saya karena nilai akademik saya hanya mendapat peringkat 4 dari bawah. Mulai saat itu pula, saya sedikit demi sedikit mulai membenci teman-teman sekelas saya itu dan saya ingin membuat mereka berada dibawah saya didalam hal akademik. Namun saya tidak tahu cara untuk mengalahkan mereka dengan kemampuan akademik saya yang jauh berada di bawah mereka. Kebingungan saya akhirnya mulai menghilang karena model pembelajaran semester 2 tidak lagi menghafal saat ujian akan tetapi sistemnya diganti dengan berdiskusi. Saya yang pada saat SD dan Mts pernah mengikuti lomba pidato merasa sangat di untungkan. Karena saya lebih pandai dalam hal bicara dibanding dengan teman-teman saya karena saya menang secara pengalaman. Mulai saat itu nilai akademik saya melejit naik dan mampu mengalahkan beberapa teman saya walaupun tidak semua teman saya berhasil saya kalahkan. Walaupun seperti itu kenyataannya, saya merasa cukup bangga karena mampu mengalahkan mereka dengan suatu hal yang menjadi keahlian saya yaitu berbicara. Semenjak kejadian itu, teman-teman yang dulu menjauh kembali mendekat dan ingin menjadikan saya sebagai salah satu kelompok mereka. Namun saya menolak ajakan mereka dan tetap berada disamping teman-teman saya yang ada di sisih saya ketika saya di isolasi walaupun mereka tidak sepandai orang-orang yang mengajak saya itu. Saya masuk di jurusan IPS yang dipandang oleh sebagian besar orang sebagai jurusan yang tidak pintar dan sering membuat onar. Namun saya sangat bangga menjadi anak IPS karena dari jurusan itu saya mampu mempelajari tentang sosial dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari saya. Berhubung saya anak sosial dan saya juga pandai dalam berbicara, jumlah teman-teman saya cukup banyak dan dari beberapa lapisan masyarakat. Mulai dari lapisan bawah seperti kernet, supir, pemulung, dan pengepul hingga lapisan atas seperti ketua RT, Kyai, Gus, dan lain sebagainya. Setelah SMA sayapun melanjutkan study saya di salah satu Universitas swasta yang terkenal di daerah Semarang. Saya masuk dalam jurusan yang awalnya saya tidak tahu sama sekali tentang jurusan tersebut. Jurusan yang saya ambil adalah jurusan Psikologi, awalnya saya mengira jurusan Psikologi itu adalah jurusan Sosiologi yang pernah saya pelajari saat SMA. Namun kedua jurusan itu sangat berberda, paling mudah untuk membedakan kedua jurusan itu adalah bassic atau dasar dari kedua jurusan tersebut. Jurusan Psikologi bassic atau dasarnya lebih cenderung ke jurusan IPA sewaktu SMA, sedangkan Sosiologi bassic atau dasarnya lebih cenderung ke jurusan IPS sewaktu SMA. Hal itu berdampak pada nialai akademik saya di masa awal saya kuliah. Saya hanya mendapat IPK 2,2 saja dari 22 sks yang saya ambil. Saya sering di sindir dan di hina oleh kakak kandung saya sendiri dan orang lain akibat IPK saya yang sangat kecil itu. Namun saya tidak lantas menyerah begitu saja dan saya bertekad lulus dengan total IPK diatas 3. Dan Alhamdulillah di semester saya ini (semester 7) IPK saya sudah di atas 3. Selain itu judul PKM atau penelitian saya berhasil tembus dan di danai oleh DIKTI. Semua hal ini karena bimbingan oleh salah satu dosen saya yang sering saya sebut dengan nama "Bunda Retno" yang tidak pantang menyerah dalam mengarahkan saya yang dikenal sebagai mahasiswa yang sangat sulit diatur. Selain Bunda Retno, dosen-dosen Psikologi lainnya seperti Bu Dwi, Bu Inhastuti, Bu Erni, Bu Putu, Bu layli, Bu Ratna, Bu Neneng, Bu Titin, Bu Rohmatun, Bu Agustin, Pak Iim, Pak Seno, Pak Joko, Pak Mutho, dan dosen Psikologi lainnya beserta staf yang dengan sabar mengajarkan ilmunya pada saya.
Mungkin sementara hanya itu yang dapat saya sampaikan, disini saya hanya ingin berpesan pada pembaca bahwa "Tidak peduli siapa orang tuamu, latar belakangmu, dan status sosialmu yang harus kamu pedulikan adalah dirimu sendiri apakah menjadi seorang yang mengayomi atau malah menjadi orang yang membebani. Selain itu, apakah kamu menjadi orang yang di pengaruhi atau bisa menjadi orang yang mempengaruhi, itu semua yang harus kamu pedulikan".
Terimakasih pada semua "Pelita kehidupan saya" dan semua saudara saya serta pembaca semua yang mau mengorbankan waktunya hanya untuk membaca tulisan yang mungkin tidak bermanfaat ini.

Jumat, 12 Februari 2016

4 Teori tentang CINTA

Cinta adalah emosi dasar manusia, tetapi memahami bagaimana dan mengapa hal itu terjadi bukanlah hal yang mudah. Bahkan, untuk waktu yang lama, para ilmuwan beranggapan bahwa cinta hanyalah sebuah fenomena atau ilmu yang tidak bisa dimengerti oleh ilmuan sekalipun dengan secara jelas dan tepat. Tapi jangan khawatir, kita tetap bisa memahami apa itu cinta walaupun teori ini belum sempurna untuk menjelaskan arti tentang cinta. Berikut ini adalah 4 teori cinta yang menjelaskan perbedaan antara cinta, suka (menyukai) dan ikatan emosional, mari kita simak;

1.     Suka Vs Cinta

Psikolog Zick Rubin menjelaskan bahwa cinta yang romantis terdiri dari tiga unsur, yakni : keterikatan (attachment),kepedulian (caring) dan keintiman (intimacy). Keterikatan adalah kebutuhan untuk menerima perhatian dan kontak fisik dengan orang lain. Kepedulian (caring) adalah kemampuan yang anda miliki untuk menghargai dan memberikan kebahagiaan untuk orang lain. Sedangkan keintiman (intimacy) mengacu pada kebutuhan untuk berbagi pemikiran, keinginan dan perasaan dengan orang lain.

Berdasarkan definisi tersebut, Rubin merancang skala tentang menyukai dan mencintai (Rubin’s Scales of Liking and Loving). Skala ini mengungkapkan apakah seseorang mencintai atau hanya sebatas menyukai. Dalam sebuah studi, Rubin meminta sejumlah responden untuk mengisi skala, berdasarkan bagaimana perasaan mereka kepada pasangan dan teman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasaan terhadap teman memiliki skor tinggi pada skala menyukai dan perasaan terhadap pasangan memiliki nilai tinggi padaskala mencintai.

Cinta bukanlah konsep yang konkret dan karena itu sulit untuk diukur. Namun, Rubin’s Scales of Liking and Lovingmenawarkan cara untuk mengukur perasaan cinta yang kompleks.

2.     Kasih Sayang Vs Gairah

Menurut profesor psikologi Universitas Hawaii, Elaine Hatfield, ada dua tipe dasar cinta, yaitu cinta kasih sayang(compassionate love) dan gairah cinta (passionate love). Cinta kasih sayang ditandai dengan adanya saling keterikatan, saling menghormati, menghargai, kepedulian dan kepercayaan. Kasih sayang biasanya tumbuh berkembang dari perasaan saling pengertian dan rasa saling menghargai satu sama lain.

Sedangkan cinta yang dilandasi gairah (passionate love)ditandai dengan emosi yang intens, daya tarik seksual, kecemasan dan afeksi. Ketika cinta terbalaskan (reciprocated love), orang merasa gembira dan bahagia. Namun jika cinta tak terbalaskan (unreciprocated love), akan menyebabkan perasaan sedih, berkecil hati dan bahkan putus asa.

Hatfield menunjukkan bahwa cinta yang didasari oleh gairah adalah fana, karena dipengaruhi fungsi fisiologis pada manusia. Seperti anda merasa bergairah jika berada di depan seorang wanita cantik atau lelaki keren. Menurut Hatfield, idealnya, cinta adalah hubungan yang menggabungkan antara kenyamanan dan kasih sayang dengan gairah itu sendiri. Sehingga hubungan antara pasangan akan bertahan lama dan terhindar dari masalah selingkuh maupun perceraian.

3.     Teori Roda Warna Tentang Cinta

Pada tahun 1973, John Lee dalam buku klassik-nya The Colors of Love, menganalogikan tipe cinta dengan teori tentang roda/lingkaran warna (color wheel/color circle), yakni sebuah ilustrasi abstrak tentang keterkaitan antara warna-warna primer, warna sekunder dan warna komplementer (lihat penjelasan color wheel disini).

Color WheelSama seperti ada tiga warna utama, Lee menjelaskan bahwa ada tiga tipe utama dari cinta, yaitu adalah Eros, Ludos dan Storge. Eros adalah perasaan cinta kepada seseorang yang dianggap paling ideal. Ludos menganggap cinta sebagai sebuah permainan, sedangkan storge menganggap cinta sebatas persahabatan.

Sama halnya dengan analogi color wheel, cinta juga merupakan kombinasi antara Eros, Ludos dan Storge. Kombinasi tersebut antara lain;

Mania (Eros + Ludos) = Cinta yang obsesif (Obsessive love);

Pragma (Ludos + Storge) = Cinta yang realistis dan praktis (practical love);

Agape (Eros + Storge) = Cinta tanpa pamrih (Selfless love)

4.     Teori Segitiga Tentang Cinta

Cinta segitiga yang dimaksud disini bukan yang sering kita dengar; adanya pihak ketiga dalam sebuah hubungan. Melainkan tiga komponen cinta (triangular theory of love) menurut Robert Sternberg. Sternberg menjelaskan bahwa ada tiga komponen cinta, yaitu : keintiman (intimacy), gairah (passion) dan komitmen (commitment).

1)      Keintiman – Yang meliputi perasaan keterikatan, kedekatan, keterhubungan, dll.

2)      Passion – Yang meliputi antara cinta yang romantis dan daya tarik seksual.

3)      Komitmen – Yakni keputusan untuk tetap bersama pasangan dalam waktu yang panjang.

Kombinasi yang berbeda dari ketiga komponen menghasilkan berbagai jenis cinta. Misalnya, kombinasi keintiman dan komitmen dalam cinta kasih penuh kasih sayang (compassionate love), sedangkan kombinasi gairah dan keintiman menyebabkan gairah cinta (passionate love).

Sternberg memperkenalkan istilah cinta sempurna (consummate love) untuk menggambarkan kombinasi antara keintiman, gairah dan komitmen. Hubungan yang dibangun pada dua individu akan lebih sempurna jika didasarkan pada kombinasi ketiganya. Meskipun begitu, Sternberg menyangsikan adanya cinta yang sempurna di dunia ini, bagaimana dengan anda?

Ada beberapa teori-teori cinta yang belum admin lampirkan. namun beberapa teori cinta diatas paling tidak bisa menjelaskan tentang cinta yang selama ini dianggap barang “abstrak”.

Rujukan :

Rubin, Zick. 1970. Measurement of romantic love. Journal of Personality and Social Psychology

Hatfield, E., & Rapson, R. (2005). Love and sex: Cross-cultural perspectives. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon.

Lee JA (1973). Colours of love: an exploration of the ways of loving. Toronto: New Press

Robert J. Sternberg, “Triangulating Love”, in T. J. Oord ed. The Altruism Reader (2007)

Cuaca yang ekstrim atau Perilaku manusia yang ekstrim ?

Banjir menjadi momok yang sangat menjengkelkan bahkan sangat mengerikan. Sawah ladang hancur berantakan karena air yang melebihi ukuran, saluran air tak mengalir lancar karena air tak punya jalan keluar. Cuaca yang tak menentu juga menyebabkan air turun tak terbendung. Sehingga sungai dan saluran air pun tidak mampu menampung. Khususnya di salah satu daerah di wilayah Provinsi Jawa Tengah yang saat ini penulis tempati. Masyarakat yang rumahnya rendah (pondasi) harus rela pergi dari rumah hanya untuk mandi, kencing, dan buang air besar. Hal ini dikarenakan air di dalam sapiteng atau penampung pembuangan air sudah tidak mampu membendung air. Sehingga air yang berada dalam penampungan tersebut muncul hingga melewati permukaan tanah. Siapakah yang harus di salahkan atas kejadian banjir ini ?. Apakah cuaca yang tidak menentu dan ekstrim atau diluar kebiasaan ?. Ataukah perilaku manusia yang selalu mengeksploitasi bumi tanpa memikirkan kelanjutan hidup bumi ini ?. Hanya kesadaran dirilah yang mampu menjawab semua pertanyaan itu. Seringkali kita membuang sampah di sembarang tempat walaupun ukurannya sangat tidak seberapa. Seringkali kita menebang pohon-pohon yang tumbuh subur hanya karena kita ingin membangun rumah mewah yang diimpikan. Kita boleh memanfaatkan semua yang ada di bumi ini, tapi kita juga harus memikirkan bagaimana bumi ini tetap bisa di manfaatkan oleh anak cucu kita nanti. Jika hal itu tidak dilakukan yang terjadi bukan pemanfaatan lagi tapi sudah memasuki eksploitasi atau PENGHANCURAN. Kita tidak akan marah jika tidak ada sebabnya, begitupun dengan bumi yang kita huni sekarang. Pikirkanlah dengan penuh kesadaran atas semua perilaku kita terhadap bumi ini sehingga kamu tidak menyesal di kemudian hari.

Siapa yang SALAH ???

Ketika saya selesai menaruh ransel di meja, saya langsung dikejutkan oleh sebuah pertanyaan. Walaupun pertanyaan itu sangat sederhana, tetapi butuh pemahaman yang luar biasa untuk menjawabnya. Sayapun seakan tidak percaya ketika pertanyaan itu terucap oleh teman yang tidak kritis. Pertanyaan itu adalah "Siapa Yang Salah kang ?", pertanyaan yang tak terduga oleh saya.

Kemudian dia mulai memaparkan alasan kenapa dia bertanya seperti itu kepada saya. Ini semua karena ada 3 orang yang masih duduk dibangku sekolah ( SD ) mencoba membobol jok motor yang diparkir didepan pondok kami. Saya seakan-akan tak percaya mendengar penjelasannya, tapi ketika saya buktikan kebenaran informasinya, ternyata memang benar semua yang telah diucapkan oleh teman saya itu. Sayapun terdiam dan menanyakan pertanyaan yang sama pada diri saya sendiri. Kenapa anak seumuran itu sudah melakukan hal yang tidak pantas ? terus siapa yang salah disini ?.

Saya mulai menggunakan otak saya untuk berfikir tentang fenomena yang baru saja terjadi didepan mata saya itu. Dan akhirnya saya menemukan jawaban atas peristiwa itu lalu saya utarakan pada teman saya, " Begini kang, di daerah ini sebagian masyarakatnya sibuk bekerja, terutama bagi orang tua yang sudah mempunyai anak dan menyekolahkan anaknya. Mereka hanya ingin menyukupi kebutuhan jasmaniah tanpa memperdulikan kebutuhan rohaniah anak-anaknya. Jadi yang terpenting hanyalah anaknya bisa sekolah dan makan saja, mereka tidak mementingkan bagaimana prestasi, tingkah laku, pergaulan, dan juga keimanan anak tersebut. Jadi yang terjadi seperti apa yang anda lihat kang ". Jawaban atas pertanyaan teman saya.

Sayapun melanjutkan keterangan saya " Jadi kita harus ingat bahwa manusia memiliki 2 kebutuhan, kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kedua kebutuhan itu haruslah seimbang dalam memenuhinya kang, supaya terjadi keseimbangan dalam kehidupan manusia tersebut. Kita juga harus ingat bahwa anak adalah titipan dari Tuhan yang harus kita rawat dengan sebaik-baiknya karena kelak kita akan dimintai tanggung jawab atas semua yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita".

Ini hanya sebagian kecil dari fenomena yang terjadi disekitar kita, apakah kita harus diam saja melihat fenomena ini atau kita akan memperbaikinya dengan memulai dari diri kita sendiri ?. Itu hanyalah pilihan yang harus kita pilih, karena hidup itu sendiri adalah suatu pilihan dan setiap pilihan mempunyai konsekuensi yang harus kita terima dan jalankan.