Assalamu'alaikum, Selamat Datang dan Selamat Membaca

Selasa, 23 Februari 2016

Biografi Sang Hina Part 1

Tulisan ini hanyalah berisi suatu hal yang mungkin tidak bermanfaat untuk semua orang. Tulisan ini hanya berisi tentang perjalanan hidup "Sang Hina" atau lebih tepatnya adalah pemilik blog ini. Saya langsung saja mulai dari saya akan dilahirkan oleh ibunda saya yang sangat saya banggakan. Ketika saya masih dalam kandungan bunda saya, salah satu Kyai ayah saya yang mungkin sudah di kenal oleh semua orang wafat. Nama Kyai ayah saya itu ialah Chamim Djazuli atau sering dikenal dengan Gus Miek. Selayaknya seorang santri yang ditinggal oleh Kyainya, Ayah saya langsung pergi ziarah ke makam beliau. Ketika ayah saya sampai di makam beliau, ayah saya langsung berdzikir dengan suatu amalan dzikir yang pernah diberikan oleh Gus Miek kepada ayah saya. Namun ketika jumlah dzikir itu belum selesai, ayah saya tertidur di makam Alm. Gus Miek tersebut karena perjalanan yang cukup jauh dari rumah saya ke makam beliau. Di dalam tidurnya, ayah saya di temui oleh sesosok yang sangat mirip dengan alm. Gus Miek. Beliau berpesan pada ayah saya bahwa bayi yang akan di lahirkan oleh istrinya atau bunda saya adalah seorang anak laki-laki. Selain menunjukkan jenis kelamin, alm. Juga memberikan nama untuk anak ayah saya kelak. Nama yang diberikan oleh alm. Dalam mimpi ayah saya adalah "Gus Chamim" sambil menunjuk sebuah nisan yang ada disamping ayah saya. Setelah bermimpi seperti itu, ayah saya langsung terbangun dan menyelesaikan dzikirnya serta melangkah pulang untuk menemani  bunda saya yang sedang hamil. Beberapa bulan kemudian sayapun lahir dan langsung diberi nama "Agus Chamim" oleh ayah saya. Ayah saya menambahkan huruf "A" didepannya karena menurut ayah saya, saya bukan anak seorang kyai yang sering dipanggil "Gus" oleh orang-orang. Saya memang lahir dari keluarga yang sangat sederhana yang hanya menjadi petani dan seorang guru honorer di yayasan swasta di desa saya. Sayapun mulai menjalani kehidupan saya di dunia yang katanya "fana" ini. Ketika saya TK kelas pagi, saya sempat terlibat pertengkaran yang mrngakibatkan saya keluar dari dunia persekolahan. Bertepatan dengan TK kelas pagi yang harus saya tinggalkan, TK kelas sore saya juga ikut saya tinggalkan karena saya tidak bisa baca tulis huruf hijaiyah atau huruf arab. Akibat kejadian itu, saya harus mengulang baik kelas TK pagi maupun kelas TK sore. Kehidupan SD hingga Mts atau SMP saya tidak ada yang istimewa. Saya menjalani kehidupan saya sama seperti anak-anak yang lain misalnya bermain, belajar kelompok, dan kegiatan umum lainnya. Hal menarik yang terjadi dalam kehidupan saya ialah ketika saya berhasil masuk dalam salah satu sekolah Favorit di daerah KUDUS. Saya termasuk orang yang beruntung bisa masuk sekolah tersebut karena saya sadar bahwa secara akademik saya masih kalah dengan teman-teman lain yang juga masuk kelas tersebut. Hal yang saya takutkan terjadi ketika saya memasuki awal semester 2 kelas X-8. Saya mulai di asingkan atau di isolasi oleh teman-teman sekelas saya karena nilai akademik saya hanya mendapat peringkat 4 dari bawah. Mulai saat itu pula, saya sedikit demi sedikit mulai membenci teman-teman sekelas saya itu dan saya ingin membuat mereka berada dibawah saya didalam hal akademik. Namun saya tidak tahu cara untuk mengalahkan mereka dengan kemampuan akademik saya yang jauh berada di bawah mereka. Kebingungan saya akhirnya mulai menghilang karena model pembelajaran semester 2 tidak lagi menghafal saat ujian akan tetapi sistemnya diganti dengan berdiskusi. Saya yang pada saat SD dan Mts pernah mengikuti lomba pidato merasa sangat di untungkan. Karena saya lebih pandai dalam hal bicara dibanding dengan teman-teman saya karena saya menang secara pengalaman. Mulai saat itu nilai akademik saya melejit naik dan mampu mengalahkan beberapa teman saya walaupun tidak semua teman saya berhasil saya kalahkan. Walaupun seperti itu kenyataannya, saya merasa cukup bangga karena mampu mengalahkan mereka dengan suatu hal yang menjadi keahlian saya yaitu berbicara. Semenjak kejadian itu, teman-teman yang dulu menjauh kembali mendekat dan ingin menjadikan saya sebagai salah satu kelompok mereka. Namun saya menolak ajakan mereka dan tetap berada disamping teman-teman saya yang ada di sisih saya ketika saya di isolasi walaupun mereka tidak sepandai orang-orang yang mengajak saya itu. Saya masuk di jurusan IPS yang dipandang oleh sebagian besar orang sebagai jurusan yang tidak pintar dan sering membuat onar. Namun saya sangat bangga menjadi anak IPS karena dari jurusan itu saya mampu mempelajari tentang sosial dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari saya. Berhubung saya anak sosial dan saya juga pandai dalam berbicara, jumlah teman-teman saya cukup banyak dan dari beberapa lapisan masyarakat. Mulai dari lapisan bawah seperti kernet, supir, pemulung, dan pengepul hingga lapisan atas seperti ketua RT, Kyai, Gus, dan lain sebagainya. Setelah SMA sayapun melanjutkan study saya di salah satu Universitas swasta yang terkenal di daerah Semarang. Saya masuk dalam jurusan yang awalnya saya tidak tahu sama sekali tentang jurusan tersebut. Jurusan yang saya ambil adalah jurusan Psikologi, awalnya saya mengira jurusan Psikologi itu adalah jurusan Sosiologi yang pernah saya pelajari saat SMA. Namun kedua jurusan itu sangat berberda, paling mudah untuk membedakan kedua jurusan itu adalah bassic atau dasar dari kedua jurusan tersebut. Jurusan Psikologi bassic atau dasarnya lebih cenderung ke jurusan IPA sewaktu SMA, sedangkan Sosiologi bassic atau dasarnya lebih cenderung ke jurusan IPS sewaktu SMA. Hal itu berdampak pada nialai akademik saya di masa awal saya kuliah. Saya hanya mendapat IPK 2,2 saja dari 22 sks yang saya ambil. Saya sering di sindir dan di hina oleh kakak kandung saya sendiri dan orang lain akibat IPK saya yang sangat kecil itu. Namun saya tidak lantas menyerah begitu saja dan saya bertekad lulus dengan total IPK diatas 3. Dan Alhamdulillah di semester saya ini (semester 7) IPK saya sudah di atas 3. Selain itu judul PKM atau penelitian saya berhasil tembus dan di danai oleh DIKTI. Semua hal ini karena bimbingan oleh salah satu dosen saya yang sering saya sebut dengan nama "Bunda Retno" yang tidak pantang menyerah dalam mengarahkan saya yang dikenal sebagai mahasiswa yang sangat sulit diatur. Selain Bunda Retno, dosen-dosen Psikologi lainnya seperti Bu Dwi, Bu Inhastuti, Bu Erni, Bu Putu, Bu layli, Bu Ratna, Bu Neneng, Bu Titin, Bu Rohmatun, Bu Agustin, Pak Iim, Pak Seno, Pak Joko, Pak Mutho, dan dosen Psikologi lainnya beserta staf yang dengan sabar mengajarkan ilmunya pada saya.
Mungkin sementara hanya itu yang dapat saya sampaikan, disini saya hanya ingin berpesan pada pembaca bahwa "Tidak peduli siapa orang tuamu, latar belakangmu, dan status sosialmu yang harus kamu pedulikan adalah dirimu sendiri apakah menjadi seorang yang mengayomi atau malah menjadi orang yang membebani. Selain itu, apakah kamu menjadi orang yang di pengaruhi atau bisa menjadi orang yang mempengaruhi, itu semua yang harus kamu pedulikan".
Terimakasih pada semua "Pelita kehidupan saya" dan semua saudara saya serta pembaca semua yang mau mengorbankan waktunya hanya untuk membaca tulisan yang mungkin tidak bermanfaat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar