Assalamu'alaikum, Selamat Datang dan Selamat Membaca

Minggu, 17 September 2017

Kembali "TERJEBAK" dalam Lubang Iblis

Salam keselamatan bagi semua pembaca. Kali ini penulis akan melanjutkan part dari Sang Hina yang dulu sempat terputus. Judul kali ini adalah Kembali "TERJEBAK" dalam Lubang Iblis. Kenapa harus ada kata "Kembali" ?. Ada apa dengan kata "Terjebak dalam lubang iblis" ?. Penulis akan menjabarkan semuanya disini, jadi tetap baca hingga kalimat yang terakhir ya !!! hehe.
Kata "Kembali" diperuntukkan untuk sesuatu hal yang di ulang lagi. Sedangkan untuk kata "Terjebak dalam lubang iblis" adalah ketika seseorang tidak mampu mengontrol nafsu dan masuk dalam hasutan iblis laknat.
Hal seperti inilah yang terjadi pada Sang Hina sewaktu dia bekerja sebagai marketing. Saat itu cuaca sangatlah cerah, hingga tenggorokan Sang Hina kering bagaikan telaga tanpa air. Teman-teman Sang Hina yang merasakan hal sama, mengajak Sang Hina untuk minum di suatu kedai kelapa muda pada siang itu. Bagaimana rasanya ketika ada es kelapa muda membasahi tenggorokan yang sangat kering ???. Brrrrr, Bisa pembaca bayangkan sendiri, intinya apa yang pembaca bayangkan, itulah yang dirasakan Sang Hina pada waktu itu. Hehe
Tidak akan terjadi masalah apapun jika hal itu dilakukan pada hari biasa. Masalahnya adalah pada waktu itu bertepatan dengan bulan suci umat Islam sedunia. Jadi intinya teman-teman Sang Hina membujuk dia untuk membatalkan puasa hampir setiap hari. Pada awalnya, Sang Hina mampu menepis semua godaan dan rayuan yang ada. Namun, karena hampir setiap hari godaan selalu menyertai, akhirnya benteng Sang Hina yang kokoh mampu diruntuhkan. Mungkin banyak pembaca yang mencibir Sang Hina karena perilakunya ini. Tapi orang-orang "lapangan" pasti dapat mengerti dan memahami kejadian ini.
Pada awalnya Sang Hina tetap bertanggung jawab dengan hanya membatalkan puasa 1 kali saja. Tapi godaan yang sangat intens membuat Sang Hina tak mampu berbuat apa-apa lagi. Sang Hina terpaksa membatalkan beberapa puasanya dalam bulan suci tersebut.
Setelah bulan suci lewat, Sang Hina mengakui kesalahannya dan mencoba untuk menebusnya. Sang Hina teringat akan kejadian yang serupa sewaktu Sang Hina masih mengenakan seragam putih abu-abu. Pada saat itu, Sang Hina yang memutuskan jalan kaki untuk pulang ke gubuknya, merasa kelelahan dan kehausan. Setibanya di gubuk, Sang Hina merasa heran dengan pintu kamarnya yang terkunci dari dalam. Dengan hati yang dipenuhi dengan perasaan curiga dan penasaran, Sang Hina memutuskan untuk mendobrak pintu kamar. Setelah pintu berhasil terbuka, Sang Hina seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya saat itu.
Sang Hina memergoki beberapa temannya sedang buka bersama pada waktu yang tidak seharusnya. Melihat Sang Hina muncul secara tiba-tiba, teman-teman Sang Hina yang kepergok langsung menarik Sang Hina masuk kamar dan kembali mengunci pintu dari dalam.
Setelah pintu terkunci dan keadaan dirasa aman, teman-teman Sang Hina langsung menyodorkan nasi bungkus, lauk dan berbagai macam minuman dingin. Sang Hina yang masih junior diantara yang lain seakan terlarut dalam keadaan dan semakin terjerumus dalam lubang iblis.
Mungkin cerita ini banyak sekali yang mengalami, namun Sang Hina berpesan bahwa janganlah kita membanggakan kejelekan. Hal ini dikarenakan kita akan mendapatkan banyak masalah sesudahnya.
Mungkin itu dulu ya pembaca, mohon maaf kalau ada kesalahan kata maupun kalimat.
Salam keselamatan untuk kita semua.

Perjuangan Sang Hina

Salam keselamatan untuk semua pembaca. Sebelumnya penulis mau meminta maaf yang sebesar-besarnya, karena sudah lama sekali penulis tidak update di blog ini lagi. Walaupun terkadang penulis ingin menggerakkan jari dan mencurahkan isi hati, namun apalah daya waktu dan kondisi belum merestui, hehe. Okay, langsung saja penulis akan mencoba melanjutka cerita dari Sang Hina. Oh ya bagi pembaca yang belum tahu sejarah dari sang hina, bisa langsung lihat di blog ini juga. Tanpa perlu berpanjang lebar lagi, karena yang panjang-panjang belum tentu melebar, hehe. Kali ini penulis akan menceritakan lanjutan kisah dari Sang Hina yang berjudul "Perjuangan Sang Hina". Sesuai dengan judul tersebut, disini penulis akan menjabarkan perjuangan-perjuangan dari Sang Hina khususnya setelah Sang Hina lulus dari perkuliahannya.
Pasti pembaca sudah tahu dan mendengar bahwa banyak orang yang bertanya seperti ini "Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya nganggur juga ?". Iya,,, hal itu juga dialami oleh Sang Hina. Setelah kuliah selesai, Sang Hina tidak langsung mendapatkan pekerjaan dan terpaksa harus menganggur. Bukan berarti Sang Hina tidak berusaha mencari pekerjaan, tapi karena Tuhan berkehendak lain. Akhirnya Sang Hinapun mendapat cacian dan ejekan baik dari orang-orang desa maupun teman-temannya. Ejekan dan cacian itu bertahan selama kurang lebih 2 bulan. Tapi Sang Hina tak mau memperdulikan semua itu dan memilih untuk tetap maju. Hingga hal yang dinanti-nati datang menghampiri. Yup, Sang Hina mendapat tawaran kerja sebagai konsultan bisnis di salah satu perusahaan saham. Namun berhubung terjadi kesalah pahaman antara pimpinan dengan Sang Hina, akhirnya Sang Hinapun mengundurkan diri dengan terhormat. Samg Hina berkeja selama 2 bulan diperusahaan tersebut.
Kemudian Sang Hina mencoba mencari pekerjaan lagi dengan langkah gontai tanpa arah, keringat berkucur dengan deras, dan jaket lusuh selalu menghiasi pundak (malah kayak lagu ya, hehe).
Akhirnya kurang lebih sekitar 1 bulan menganggur, Sang Hina memdapat tawaran kerja lagi. Namun kali ini terpaksa Sang Hina tolak, karena pekerjaannya sama dengan yang awal, yaitu MARKETING. Dalam hati Sang Hina bingung serta menanyakan pada Dzat Yang Membolak Balikkan Hati. "Tuhan, apakah tiada pekerjaan lain yang dapat mewujudkan cita-cita hamba selain marketing ?" Sang Hinapun bertanya pada Tuhannya. Dalam keadaan gundah gulana, Sang Hina sempat mengakhiri hidupnya karena rasa malu yang tidak kunjung reda. Namu Tuhan berkehendak lain, segala macam usaha percobaan untuk mengakhiri hidup akhirnya kandas tanpa ada hasil. "Tuhan tolong kasih hamba pekerjaan yang Engkau ridloi", minta Sang Hina pada Tuhannya. Akhirnya 1 minggu sesudah Sang Hina memohon, datanglah tawaran pekerjaan yang aslinya sangat dibenci oleh Sang Hina, apalagi kalau bukan marketing. "Tuhan, jika ini mauMU, aku akan menurutinya, dan semoga Engkau merestui jalanku". Sang Hina akhirnya terpaksa menerima pekerjaan itu. Namun, jika segala sesuatu diawali dengan ketidak sukaan, maka sesuatu tersebut tidak akan bertahan lama. Hal inilah yang terjadi pada Sang Hina, dia hanya mampu bertahan sebagai marketing selama kurang lebih 4 bulan. Sang Hina keluar dari kantor tersebut karena Sang Hina selalu dimanfaatkan oleh senior-seniornya. Akhirnya Sang Hina kembali mendapat lebel "PENGANGGURAN". Akan tetapi, kali ini Sang Hina sudah bisa menerima keadaannya secara utuh. Sang Hina tak lagi merengek atau marah pada Tuhannya, karena Sang Hina telah sadar bahwa Tuhan tidak akan lupa pada hamba yang ingat padaNYA. Selain itu, Sang Hina mampu belajar ilmu baru, yaitu ilmu marketing yang total selama kurang lebih 6 bulan ia jalani. Bagi Sang Hina, tidaklah percuma orang-orang yang menuntut ilmu setinggi-tingginya, karena ilmu yang dia dapatkan akan berguna bagi dia hingga dia tiada.
Pesan Sang Hina adalah "Jangan pernah putus asa, niati-jalani-hadapi segala rintangan dengan kesabaran hati, dan jang pernah menghina orang lain, karena kita belum tau apakah besok kita lebih tinggi atau lebih rendah dari orang tersebut.
Surodiro Joyoningrat, Lebur Dening Pangestuti.
Ojo Adigang, Adigung, Adiguno.
Urip iku Urup.
Salam keselamatan untuk kita semuanya.
Salam Rahayu.

Senin, 09 Januari 2017

Biografi Sang Hina Part 4 “Maut Yang Terlewat”



Salam keselamatan untuk kita semua, terutama untuk para pembaca yang telah sudi menyambangi blog saya dan yang telah rela menyisakan waktunya hanya untuk sekedar membaca tulisan saya ini. Sesuai dengan judul part kali ini yaitu “Maut Yang Terlewat”, disini penulis akan menceritakan beberapa kisah dari Sang Hina yang berhubungan dengan MAUT. Dari judul saja mungkin para pembaca sudah mengira bahwa kisah kali ini akan menjurus pada KEMATIAN. Mungkin persepsi para pembaca sama seperti maksud atau isi dari tulisan kali ini, namun pembaca juga harus memperhatikan kata dalam judul setelah kata MAUT ya, hehehe (red). Kata “Yang Terlewat” berarti Sang Hina tidak akan mati dalam kisah ini, kalau Sang Hina mati, maka tidak akan ada part-part selanjutnya alias The End. Saya tidak akan berpanjang kali lebar lagi, karena disini bukan tempat anda belajar rumus bangunan persegi panjang, hehehe (red).
Mungkin pembaca yang sudah mengikuti kisah Sang Hina dari part 1 hingga 3 sudah mengetahui bahwa Sang Hina hanyalah anak desa dan dari keluarga yang sangat sederhana. Sekilas info mengenai desa Sang Hina, sebuah desa yang memiliki nama unik, masyarakat unik, luas yang bisa dikatakan melebihi ukuran desa-desa sebelahnya dan beberapa aliran sungai dari yang kecil hingga yang besar menambah keunikan dari desa Sang Hina ini. Nama desa dari Sang Hina adalah desa P (nama disamarkan supaya tidak menimbulkan SARA), yang mirip sekali dengan salah satu material bangunan. Nama desa ini diambil karena pada zaman dahulu lokasi dari desa ini adalah pesisir pantai (menurut cerita dari para nenek moyang, hehe). Walaupun terhitung sebagai desa, sebagian besar masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut memiliki selera khususnya didalam bidang life style atau gaya hidup yang tidak kalah mewah dengan orang perkotaan. Anda tidak percaya ? tapi fakta-fakta menunjukkan bahwa memang keadaan masyarakat desa tersebut seperti itu, salah satunya ialah ketika ada seorang laki-laki ingin menikahi wanita desa tersebut, minimal laki-laki itu harus menyiapkan beberapa mas kain sebagai berikut: perabotan dapur (panci, kompor, penggoreng, dll), perabotan rumah seperti lemari dan kulkas, emas sepeti anting-anting, kalung dan gelang, hingga minimal satu sepeda motor (walaupun ada juga yang memberikan mobil, tapi rata-rata masih memberikan motor). Semua benda yang telah dijelaskan diatas seakan menjadi benda yang wajib dibawa bagi mempelai pria jika ingin mempersunting wanita didaerah itu. Padahal seharusnya yang paling wajib dalam pernikahan ialah ijab qobulnya, sedangkan mahar itu bisa berwujud banyak hal seperti hafalan Al-Qur’an, uang 10.000 rupiah dan lain sebagainya (asal dua belah pihak ikhlas dan ridlo, hehe). Sedangkan luas dari desa Sang Hina ini bisa mencapai hampir 2 sampai 3 kali lipat dari desa-desa sebelahnya.
Diatas sudah dijelaskan bahwa desa dari Sang Hina juga di apit oleh beberapa sungai baik yang besar maupun kecil, ada satu sungai besar dan empat sungai kecil di desa itu. Sungai besar memiliki nama sungai K (nama yang ngetrent diwilayah itu), sedangkan sungai yang kecil memiliki nama sebagai berikut: P, E, L dan D. Kejadian pertama bertempat di salah satu sungai kecil yang bernama L. Waktu itu Sang Hina masih berumur sekitar 5 tahun, berhubung umur Sang Hina masih tergolong dalam anak-anak sehingga Sang Hina belum bisa berenang pada waktu itu. Akan tetapi akibat bujukan dan hinaan dari teman-teman Sang Hina yang berumur lebih tua membuat Sang Hina memutuskan untuk ikut turun ke sungai itu atau bahasa kerennya melu njegor, tanpa berfikir apakah dia bisa berenang atau tidak. Akhirnya kejadian yang tidak diinginkan itupun terjadi, Sang Hina yang tidak mampu berenang tenggelam dalam sungai yang memiliki kedalam sekitar dua meter tersebut (tenggelam is Kelelep). Kejadian tersebut sontak membuat panik semua teman-teman Sang Hina yang ikut mandi tersebut, sangking paniknya semua teman-teman Sang Hina pergi ke desa untuk meminta bantuan (jarak sungai dan desa sekitar 500m, namun sungai itu secara teritorial masih ikut desa Sang Hina). Sang Hina yang sudah tenggelam selama beberapa menit didalam sungai itu akhirnya hanya bisa pasrah dan berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya yang sudah tidak berdaya didasar sungai. Akhirnya do’a Sang Hina dikabulkan oleh Tuhan lewat seseorang yang mau mandi di lokasi dimana Sang Hina tenggelam, Sang Hina yang mendengar suara dari dalam air akibat pergesekan antara benda padat (orang) dengan benda cair (air sungai) itu berusaha meminta bantuan dengan cara merayap-rayap didasar sungai dengan nafas yang tersisa. Perjuangan Sang Hina berbuah manis ketika tangannya berhasil menggapai salah satu kaki dari orang yang mandi tersebut, orang yang sedang mandi tersebut sangat kaget ketika Sang Hina berhasil menggapai kakinya dan mengangkat kakinya ke permukaan sehingga Sang Hinapun terselamatkan. Dengan tenaga yang tersisa, Sang Hina mengucapkan terimakasih pada orang tersebut. Bagaimana dengan kejadian “MAUT” yang pertama ini ? Apakah sudah membuat perasaan anda campur aduk antara kesal karena kebodohan Sang Hina yang nekat masuk dalam sungai dan kasihan karena Sang Hina terdampar di dasar sungai beberapa menit lamanya ?. Tenang saja, karena kisah itu hanya salah satu dari kisah “Maut Yang Terlewat”, masih ada beberapa kisah lagi yang hampir merenggut nyawa dari Sang Hina.
Lanjut ke kisah berikutnya, TKP masih sama yaitu di sungai, namun kali ini terjadi di sungai yang bernama E. Waktu itu Sang Hina sudah memasuki kelas 3 SD, berhubung Sang Hina sudah beranjak besar, kemampuan berenang dari Sang Hinapun ikut meningkat sehingga Sang Hina tidak takut lagi untuk berenang di sungai lagi. Pertanyaanya adalah kenapa Sang Hina dikatakan hampir meninggal di sungai ketika dia sudah mampu berenang dengan baaik ?. Kali ini bukan masalah bisa tidaknya Sang Hina dalam berenang, namun lebih menjurus kearah MISTIS atau SUPRANATURAL. Ada salah satu makhluk astral yang bertempat tinggal disungai-sungai yang biasanya menyeret orang-orang yang sedang mandi diwilayah makhluk tersebut untuk dijadikan sebagai “makanannya”. Makhluk itu dikenal dengan sebutan setan KALAP oleh masyarakat sekitar. Kejadiannya bermula pada saat Sang Hina bersama dengan teman-temannya memutuskan untuk mandi setelah seharian mengikuti pelajaran olahraga di lapangan desa, Sang Hina dan teman-temannya yang sudah sangat kepanasan karena terik matahari yang sangat panas langsung menjeburkan dirinya di sungai E tersebut. Hingga pada saat Sang Hina menyelam dan tidak berselang lama dikagetkan oleh adanya sebuah tangan dengan kuku yang sangat tajam serta sangat kasar pada telapak tangannya menggapai kaki kiri dari Sang Hina. Sang Hina yang kaget secara reflek menendang tangan tersebut dengan kaki kanannya dan langsung berdiri di sungai itu (kedalaman sungai E tidak sedalam sungai L, sehingga jika kita berdiri, sebagian dada dan kepala kita masih bisa berada diatas permukaan air) sambil marah-marah karena Sang Hina mengira bahwa itu ulah dari teman-temannya. Namun Sang Hina terdiam ketika ada salah satu temannya memberitahu bahwa tidak ada satupun orang dibelakangnya. Kemudian Sang Hina serta teman-temannya memutuskan untuk menyudahi kegiatan berenang tersebut, setelah sampai daratan, Sang Hina dikagetkan dengan bekas luka yang ada di kaki kirinya. Sang Hinapun kembali mengingat bahwa telapak tangang yang memegang kaki kirinya memiliki tingkat kekasaran melebihi kekasaran telapak orang pada umumnya. Pada lain waktu Sang Hina yang masih penasarang tentang tangan kasar dan tajam itu akhirnya memutuskan untuk mencari tahu dengan menanyai orang-orang yang berada di sekitar sungai E itu (lokasi sungai E berada didalam desa). Jawaban dari semua orang yang ditanyai oleh Sang Hina sama yaitu “itu adalah ulah hantu atau setan KALAP, karena memang sungai ini angker dek”. Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih Seraaaaaaaaaaaaam, hehehe.
Kisah “MAUT YANG TERLEWAT” terakhir terjadi ketika Sang Hina memasuki kelas 2 SMA (info tentang SMA Sang Hina bisa dilihat di part-part sebelumnya). Kejadian tersebut terjadi ketika Sang Hina diajak untuk membenarkan aliran listrik di PONPESnya oleh salah satu ustadz Sang Hina. Sebelum membenarkan aliran listrik, ustadz Sang Hina menyuruhnya untuk mematikan semua aliran listrik dari saklar. Setelah saklar dimatikan dan ustadz Sang Hina memastikan bahwa sudah tidak ada aliran listrik yang aktif akhirnya kegiatan pembenaran listrik tersebut dilaksanakan. Namun sang ustad terkaget-kaget sewaktu Sang Hina kejang-kejang akibat tersetrum listrik (coba pembaca bayangkan, aliran listrik yang mencukupi hampir 15 ruangan yang ada di PONPES tersebut memusat pada satu titik yaitu pada Sang Hina. Betapa tinggi tegangannya dan betapa hebat sensasi kesetrumnya ?, hehehe). Sang ustadz yang melihat kejadian itu langsung lari kearah saklar listrik PONPES dan mematikan saklar yang tiba-tiba hidup itu. Masih menjadi rahasia kenapa saklar yang sudah dimatikan bisa hidup atau on lagi.
Bagaima pembaca ? Apakah pembaca sudah dag dig dug der ketika membaca kisah kali ini ?. Dalam beberapa kisah yang telah anda baca, dapat diambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak akan melupakan hambaNYA yang selalu ingat dengan Dia. Ini bukan berarti Sang Hina adalah orang yang sholeh, namun karena sebelum kejadian-kejadian itu terjadi, Sang Hina masih menyempatkan diri untuk berdo’a pada Tuhannya. Do’a ialah salah satu wujud kita untuk mengingat Keberadaan dan Kebesaran Tuhan kita. Semoga pembaca terhibur dengan tulisan penulis pada Biografi Sang Hina Part 4 kali ini.
Salam Keselamatan untuk kita semua.