Assalamu'alaikum, Selamat Datang dan Selamat Membaca

Senin, 09 Januari 2017

Biografi Sang Hina Part 4 “Maut Yang Terlewat”



Salam keselamatan untuk kita semua, terutama untuk para pembaca yang telah sudi menyambangi blog saya dan yang telah rela menyisakan waktunya hanya untuk sekedar membaca tulisan saya ini. Sesuai dengan judul part kali ini yaitu “Maut Yang Terlewat”, disini penulis akan menceritakan beberapa kisah dari Sang Hina yang berhubungan dengan MAUT. Dari judul saja mungkin para pembaca sudah mengira bahwa kisah kali ini akan menjurus pada KEMATIAN. Mungkin persepsi para pembaca sama seperti maksud atau isi dari tulisan kali ini, namun pembaca juga harus memperhatikan kata dalam judul setelah kata MAUT ya, hehehe (red). Kata “Yang Terlewat” berarti Sang Hina tidak akan mati dalam kisah ini, kalau Sang Hina mati, maka tidak akan ada part-part selanjutnya alias The End. Saya tidak akan berpanjang kali lebar lagi, karena disini bukan tempat anda belajar rumus bangunan persegi panjang, hehehe (red).
Mungkin pembaca yang sudah mengikuti kisah Sang Hina dari part 1 hingga 3 sudah mengetahui bahwa Sang Hina hanyalah anak desa dan dari keluarga yang sangat sederhana. Sekilas info mengenai desa Sang Hina, sebuah desa yang memiliki nama unik, masyarakat unik, luas yang bisa dikatakan melebihi ukuran desa-desa sebelahnya dan beberapa aliran sungai dari yang kecil hingga yang besar menambah keunikan dari desa Sang Hina ini. Nama desa dari Sang Hina adalah desa P (nama disamarkan supaya tidak menimbulkan SARA), yang mirip sekali dengan salah satu material bangunan. Nama desa ini diambil karena pada zaman dahulu lokasi dari desa ini adalah pesisir pantai (menurut cerita dari para nenek moyang, hehe). Walaupun terhitung sebagai desa, sebagian besar masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut memiliki selera khususnya didalam bidang life style atau gaya hidup yang tidak kalah mewah dengan orang perkotaan. Anda tidak percaya ? tapi fakta-fakta menunjukkan bahwa memang keadaan masyarakat desa tersebut seperti itu, salah satunya ialah ketika ada seorang laki-laki ingin menikahi wanita desa tersebut, minimal laki-laki itu harus menyiapkan beberapa mas kain sebagai berikut: perabotan dapur (panci, kompor, penggoreng, dll), perabotan rumah seperti lemari dan kulkas, emas sepeti anting-anting, kalung dan gelang, hingga minimal satu sepeda motor (walaupun ada juga yang memberikan mobil, tapi rata-rata masih memberikan motor). Semua benda yang telah dijelaskan diatas seakan menjadi benda yang wajib dibawa bagi mempelai pria jika ingin mempersunting wanita didaerah itu. Padahal seharusnya yang paling wajib dalam pernikahan ialah ijab qobulnya, sedangkan mahar itu bisa berwujud banyak hal seperti hafalan Al-Qur’an, uang 10.000 rupiah dan lain sebagainya (asal dua belah pihak ikhlas dan ridlo, hehe). Sedangkan luas dari desa Sang Hina ini bisa mencapai hampir 2 sampai 3 kali lipat dari desa-desa sebelahnya.
Diatas sudah dijelaskan bahwa desa dari Sang Hina juga di apit oleh beberapa sungai baik yang besar maupun kecil, ada satu sungai besar dan empat sungai kecil di desa itu. Sungai besar memiliki nama sungai K (nama yang ngetrent diwilayah itu), sedangkan sungai yang kecil memiliki nama sebagai berikut: P, E, L dan D. Kejadian pertama bertempat di salah satu sungai kecil yang bernama L. Waktu itu Sang Hina masih berumur sekitar 5 tahun, berhubung umur Sang Hina masih tergolong dalam anak-anak sehingga Sang Hina belum bisa berenang pada waktu itu. Akan tetapi akibat bujukan dan hinaan dari teman-teman Sang Hina yang berumur lebih tua membuat Sang Hina memutuskan untuk ikut turun ke sungai itu atau bahasa kerennya melu njegor, tanpa berfikir apakah dia bisa berenang atau tidak. Akhirnya kejadian yang tidak diinginkan itupun terjadi, Sang Hina yang tidak mampu berenang tenggelam dalam sungai yang memiliki kedalam sekitar dua meter tersebut (tenggelam is Kelelep). Kejadian tersebut sontak membuat panik semua teman-teman Sang Hina yang ikut mandi tersebut, sangking paniknya semua teman-teman Sang Hina pergi ke desa untuk meminta bantuan (jarak sungai dan desa sekitar 500m, namun sungai itu secara teritorial masih ikut desa Sang Hina). Sang Hina yang sudah tenggelam selama beberapa menit didalam sungai itu akhirnya hanya bisa pasrah dan berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya yang sudah tidak berdaya didasar sungai. Akhirnya do’a Sang Hina dikabulkan oleh Tuhan lewat seseorang yang mau mandi di lokasi dimana Sang Hina tenggelam, Sang Hina yang mendengar suara dari dalam air akibat pergesekan antara benda padat (orang) dengan benda cair (air sungai) itu berusaha meminta bantuan dengan cara merayap-rayap didasar sungai dengan nafas yang tersisa. Perjuangan Sang Hina berbuah manis ketika tangannya berhasil menggapai salah satu kaki dari orang yang mandi tersebut, orang yang sedang mandi tersebut sangat kaget ketika Sang Hina berhasil menggapai kakinya dan mengangkat kakinya ke permukaan sehingga Sang Hinapun terselamatkan. Dengan tenaga yang tersisa, Sang Hina mengucapkan terimakasih pada orang tersebut. Bagaimana dengan kejadian “MAUT” yang pertama ini ? Apakah sudah membuat perasaan anda campur aduk antara kesal karena kebodohan Sang Hina yang nekat masuk dalam sungai dan kasihan karena Sang Hina terdampar di dasar sungai beberapa menit lamanya ?. Tenang saja, karena kisah itu hanya salah satu dari kisah “Maut Yang Terlewat”, masih ada beberapa kisah lagi yang hampir merenggut nyawa dari Sang Hina.
Lanjut ke kisah berikutnya, TKP masih sama yaitu di sungai, namun kali ini terjadi di sungai yang bernama E. Waktu itu Sang Hina sudah memasuki kelas 3 SD, berhubung Sang Hina sudah beranjak besar, kemampuan berenang dari Sang Hinapun ikut meningkat sehingga Sang Hina tidak takut lagi untuk berenang di sungai lagi. Pertanyaanya adalah kenapa Sang Hina dikatakan hampir meninggal di sungai ketika dia sudah mampu berenang dengan baaik ?. Kali ini bukan masalah bisa tidaknya Sang Hina dalam berenang, namun lebih menjurus kearah MISTIS atau SUPRANATURAL. Ada salah satu makhluk astral yang bertempat tinggal disungai-sungai yang biasanya menyeret orang-orang yang sedang mandi diwilayah makhluk tersebut untuk dijadikan sebagai “makanannya”. Makhluk itu dikenal dengan sebutan setan KALAP oleh masyarakat sekitar. Kejadiannya bermula pada saat Sang Hina bersama dengan teman-temannya memutuskan untuk mandi setelah seharian mengikuti pelajaran olahraga di lapangan desa, Sang Hina dan teman-temannya yang sudah sangat kepanasan karena terik matahari yang sangat panas langsung menjeburkan dirinya di sungai E tersebut. Hingga pada saat Sang Hina menyelam dan tidak berselang lama dikagetkan oleh adanya sebuah tangan dengan kuku yang sangat tajam serta sangat kasar pada telapak tangannya menggapai kaki kiri dari Sang Hina. Sang Hina yang kaget secara reflek menendang tangan tersebut dengan kaki kanannya dan langsung berdiri di sungai itu (kedalaman sungai E tidak sedalam sungai L, sehingga jika kita berdiri, sebagian dada dan kepala kita masih bisa berada diatas permukaan air) sambil marah-marah karena Sang Hina mengira bahwa itu ulah dari teman-temannya. Namun Sang Hina terdiam ketika ada salah satu temannya memberitahu bahwa tidak ada satupun orang dibelakangnya. Kemudian Sang Hina serta teman-temannya memutuskan untuk menyudahi kegiatan berenang tersebut, setelah sampai daratan, Sang Hina dikagetkan dengan bekas luka yang ada di kaki kirinya. Sang Hinapun kembali mengingat bahwa telapak tangang yang memegang kaki kirinya memiliki tingkat kekasaran melebihi kekasaran telapak orang pada umumnya. Pada lain waktu Sang Hina yang masih penasarang tentang tangan kasar dan tajam itu akhirnya memutuskan untuk mencari tahu dengan menanyai orang-orang yang berada di sekitar sungai E itu (lokasi sungai E berada didalam desa). Jawaban dari semua orang yang ditanyai oleh Sang Hina sama yaitu “itu adalah ulah hantu atau setan KALAP, karena memang sungai ini angker dek”. Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih Seraaaaaaaaaaaaam, hehehe.
Kisah “MAUT YANG TERLEWAT” terakhir terjadi ketika Sang Hina memasuki kelas 2 SMA (info tentang SMA Sang Hina bisa dilihat di part-part sebelumnya). Kejadian tersebut terjadi ketika Sang Hina diajak untuk membenarkan aliran listrik di PONPESnya oleh salah satu ustadz Sang Hina. Sebelum membenarkan aliran listrik, ustadz Sang Hina menyuruhnya untuk mematikan semua aliran listrik dari saklar. Setelah saklar dimatikan dan ustadz Sang Hina memastikan bahwa sudah tidak ada aliran listrik yang aktif akhirnya kegiatan pembenaran listrik tersebut dilaksanakan. Namun sang ustad terkaget-kaget sewaktu Sang Hina kejang-kejang akibat tersetrum listrik (coba pembaca bayangkan, aliran listrik yang mencukupi hampir 15 ruangan yang ada di PONPES tersebut memusat pada satu titik yaitu pada Sang Hina. Betapa tinggi tegangannya dan betapa hebat sensasi kesetrumnya ?, hehehe). Sang ustadz yang melihat kejadian itu langsung lari kearah saklar listrik PONPES dan mematikan saklar yang tiba-tiba hidup itu. Masih menjadi rahasia kenapa saklar yang sudah dimatikan bisa hidup atau on lagi.
Bagaima pembaca ? Apakah pembaca sudah dag dig dug der ketika membaca kisah kali ini ?. Dalam beberapa kisah yang telah anda baca, dapat diambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak akan melupakan hambaNYA yang selalu ingat dengan Dia. Ini bukan berarti Sang Hina adalah orang yang sholeh, namun karena sebelum kejadian-kejadian itu terjadi, Sang Hina masih menyempatkan diri untuk berdo’a pada Tuhannya. Do’a ialah salah satu wujud kita untuk mengingat Keberadaan dan Kebesaran Tuhan kita. Semoga pembaca terhibur dengan tulisan penulis pada Biografi Sang Hina Part 4 kali ini.
Salam Keselamatan untuk kita semua.