Salam,,,
Berhubung ada seseorang yang tidak mau disebutkan namanya tertarik pada catatan penulis dengan judul "Biografi Sang Hina" dan meminta penulis untuk melanjutkan ceritanya. Maka penulis akan mencoba untuk mewujudkan permintaan orang tersebut, karena menurut penulis tiada bayaran yang besar selain suatu penghargaan.
Baiklah, tanpa memperpanjang waktu dan kata, penulis akan memulai catatan kali ini sambil mengingat apa yang harus ditulis, hehe(red).
Penulis akan mengawalinya sewaktu penulis masuk perkuliahan yang sudah penulis ceritakan di tulisan Biografi Sang Hina pertama. Layaknya seorang anak kecil yang dibelikan mainan oleh orang tuanya, begitu juga kebahagiaan yang dirasakan penulis sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di kelas. Dosen pertama yang menyambut penulis serta teman-teman penulis ialah Ibu DCH (Sengaja disamarkan biar tidak mengandung pencemaran nama baik). Beliaulah yang menjadi Dosen Wali penulis hingga saat ini. Beliau mulai menanyai satu persatu termasuk penulis untuk sekedar berkenalan dan mengisi pelajaran pertama. Pada saat Beliau menunjuk penulis untuk menceritakan masalalu penulis, penulis tanpa sengaja meneteskan air mata karena penulis mau tidak mau harus mengingat kenangan atau catatan yang hitam kelam untuk bercerita. Dengan kelopak mata yang belum mengering dan serpihan serpihan masalalu yang mulai nampak, penulis memulai ceritanya.
Salah satu kenangan buruk yang terjadi pada masalalu penulis ialah ketika penulis diasingkan oleh satu kelas pada saat SMA (Baca Biografi Sang Hina Part 1). Namun, ternyata jauh sebelum kejadian itu, penulis juga mempunyai kenangan yang lebih buruk daripada kenangan sewaktu SMA tersebut. Penulis merupakan anak ke 4 dari 5 bersaudara. Jarak antara penulis dengan adik penulis cukup jauh, yaitu sekitar 8 tahun. Dengan jarak yang sangat jauh tersebut, penulis sempat merasakan betapa bahagianya menjadi anak terakhir cukup lama. Penulis seakan akan tidak pernah kehausan kasih sayang setiap harinya. Namun hal itu mulai berubah ketika adik penulis lahir di muka bumi. Kasih sayang yang slalu diberikan pada penulis oleh orangtua penulis seakan akan hilang tanpa bekas. Hal itulah yang menyebabkan penulis sangat membenci adiknya itu. Hal lain yang membuat kebencian penulis pada adiknya semakin membesar yaitu ketika adik penulis menangis, maka selalu penulis yang disalahkan atas kejadian itu. Hinaan, siraman air, hingga pemukulan orangtua pada penulis yang mengakibatkan sapu patah seakan menjadi sajian rutin ketika orangtua mengetahui adik penulis menangis. Penulispun sering kejar kejaran dengan orangtua penulis hanya untuk menjauhi dampak dari perbuatan yang tidak penulis lakukan itu. Namanya anak kecil pasti sering menangis!!! Itulah yang tidak dipahami oleh orang tua penulis dan alhasil penulis selalu menjadi yang bersalah ketika adiknya menangis. Bahkan penulis juga pernah kabur dari rumah selama 3 hari karena peristiwa atau perlakukan orangtua penulis pada penulis tersebut. Hingga pada suatu hari, peristiwa yang hingga saat ini penulis tidak bisa melupakannya terjadi. Pagi layaknya pagi yang terjadi setiap harinya sebelum menjadi kelam ketika penulis mendengar adiknya menangis sangat keras sekali. Penulis yang kebingungan karena penulis tahu akibat jika orangtua penulis mengetahui bahwa adiknya menangis, memutuskan untuk berlari kearah adiknya yang berjarak sekitar 7 meter dari penulis dan menendang kepala adiknya dengan sangat keras, sehingga kepala adiknyapun terbentur lantai dengan sangat keras pula, sehingga mengakibatkan tangisan semakin keras. Perasaan bersalah dan takut menyelimuti penulis sesudah kejadian tersebut terjadi. Hingga penulis memutuskan untuk lari dari rumah dan menginap di rumah temanya selama beberapa hari. Semenjak kejadian itu, selama satu minggu penulis tidak pernah diajak bicara oleh orang tuanya. Hingga akhirnya penulispun masuk SMA yang berada jauh diluar desanya. Hal yang membuat penulis kembali teringat akan kejadian tersebut walaupun sudah berlalu sekitar 2-3 tahun utu ialah ketika penulis melihat anak anak kecil bermain dengan kakaknya di halaman Menara Kudus (lokasi tempat tinggal penulis selama SMA tidak jauh dari Menara Kudus, sehingga penulis sering kesitu walau hanya sekedar untuk meminum kopi, hehe). Setelah penulis menyaksikan kebahagiaan antara kakak dan adik yang terjadi didepan matanya, penulis mulai berfikir "kasihan adikku yang tidak pernah merasakan kebahagiaan dari kakaknya selama kakaknya di rumah". Sesudah melalui instropeksi diri yang sangat dalam, penulis mulai bertekat untuk membahagiana adiknya. Salah satunya yaitu penulis selalu membelikan adiknya oleh oleh ketika penulis liburan atau rekreasi walaupun penulis sendiri tidak membeli apa apa untuk dirinya. Penulis yang masih bercerita seakan akan tak mampu membendung air mata ketika mengingat kejadian kelam tersebut sehingga semua mata yang ada di kelas tersebut tertuju pada penulis tidak terkecuali mata sang Dosen Wali Penulis.
Biarkan semua cerita penulis menjadi pelajaran bagi kita semua bahwasanya kita sebagai manusia seharusnya slalu memberikan kebahagiaan pada manusia lain terlebih untuk orangtua dan keluarga. Penulis juga meminta maaf atas perlakuan penulis pada sang adik yang jauh dari rasa kemanusiaan. Selain itu, penulis juga ingin memberitahu bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah bahkan akan memperpanjang masalah. Penulis tidak akan menyalahkan perbuatan orangtua penulis yang sangat keras dan kasar pada penulis karena penulis sadar bahwa sepenuhnya penulis yang salah pada saat itu. Selayaknya sang kesatria yang menjadi pelindung bagi orang yang lemah, begitupun juga seorang kakak yang selalu melindungi sang adik. Biarlah air mata penulis menjadi layaknya air yang berada dalam sifat keras penulis sekeras batu.
Mungkin hanya itu yang dapat penulis haturkan pada pembaca. Penulis yakin banyak kesalahan dalam tulisan ini mulai dari format penulisan hingga perilaku atau kata kata penulis yang keras dan jangan sampai ada diantara dari kita yang melakukannya.
Berhubung ada seseorang yang tidak mau disebutkan namanya tertarik pada catatan penulis dengan judul "Biografi Sang Hina" dan meminta penulis untuk melanjutkan ceritanya. Maka penulis akan mencoba untuk mewujudkan permintaan orang tersebut, karena menurut penulis tiada bayaran yang besar selain suatu penghargaan.
Baiklah, tanpa memperpanjang waktu dan kata, penulis akan memulai catatan kali ini sambil mengingat apa yang harus ditulis, hehe(red).
Penulis akan mengawalinya sewaktu penulis masuk perkuliahan yang sudah penulis ceritakan di tulisan Biografi Sang Hina pertama. Layaknya seorang anak kecil yang dibelikan mainan oleh orang tuanya, begitu juga kebahagiaan yang dirasakan penulis sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di kelas. Dosen pertama yang menyambut penulis serta teman-teman penulis ialah Ibu DCH (Sengaja disamarkan biar tidak mengandung pencemaran nama baik). Beliaulah yang menjadi Dosen Wali penulis hingga saat ini. Beliau mulai menanyai satu persatu termasuk penulis untuk sekedar berkenalan dan mengisi pelajaran pertama. Pada saat Beliau menunjuk penulis untuk menceritakan masalalu penulis, penulis tanpa sengaja meneteskan air mata karena penulis mau tidak mau harus mengingat kenangan atau catatan yang hitam kelam untuk bercerita. Dengan kelopak mata yang belum mengering dan serpihan serpihan masalalu yang mulai nampak, penulis memulai ceritanya.
Salah satu kenangan buruk yang terjadi pada masalalu penulis ialah ketika penulis diasingkan oleh satu kelas pada saat SMA (Baca Biografi Sang Hina Part 1). Namun, ternyata jauh sebelum kejadian itu, penulis juga mempunyai kenangan yang lebih buruk daripada kenangan sewaktu SMA tersebut. Penulis merupakan anak ke 4 dari 5 bersaudara. Jarak antara penulis dengan adik penulis cukup jauh, yaitu sekitar 8 tahun. Dengan jarak yang sangat jauh tersebut, penulis sempat merasakan betapa bahagianya menjadi anak terakhir cukup lama. Penulis seakan akan tidak pernah kehausan kasih sayang setiap harinya. Namun hal itu mulai berubah ketika adik penulis lahir di muka bumi. Kasih sayang yang slalu diberikan pada penulis oleh orangtua penulis seakan akan hilang tanpa bekas. Hal itulah yang menyebabkan penulis sangat membenci adiknya itu. Hal lain yang membuat kebencian penulis pada adiknya semakin membesar yaitu ketika adik penulis menangis, maka selalu penulis yang disalahkan atas kejadian itu. Hinaan, siraman air, hingga pemukulan orangtua pada penulis yang mengakibatkan sapu patah seakan menjadi sajian rutin ketika orangtua mengetahui adik penulis menangis. Penulispun sering kejar kejaran dengan orangtua penulis hanya untuk menjauhi dampak dari perbuatan yang tidak penulis lakukan itu. Namanya anak kecil pasti sering menangis!!! Itulah yang tidak dipahami oleh orang tua penulis dan alhasil penulis selalu menjadi yang bersalah ketika adiknya menangis. Bahkan penulis juga pernah kabur dari rumah selama 3 hari karena peristiwa atau perlakukan orangtua penulis pada penulis tersebut. Hingga pada suatu hari, peristiwa yang hingga saat ini penulis tidak bisa melupakannya terjadi. Pagi layaknya pagi yang terjadi setiap harinya sebelum menjadi kelam ketika penulis mendengar adiknya menangis sangat keras sekali. Penulis yang kebingungan karena penulis tahu akibat jika orangtua penulis mengetahui bahwa adiknya menangis, memutuskan untuk berlari kearah adiknya yang berjarak sekitar 7 meter dari penulis dan menendang kepala adiknya dengan sangat keras, sehingga kepala adiknyapun terbentur lantai dengan sangat keras pula, sehingga mengakibatkan tangisan semakin keras. Perasaan bersalah dan takut menyelimuti penulis sesudah kejadian tersebut terjadi. Hingga penulis memutuskan untuk lari dari rumah dan menginap di rumah temanya selama beberapa hari. Semenjak kejadian itu, selama satu minggu penulis tidak pernah diajak bicara oleh orang tuanya. Hingga akhirnya penulispun masuk SMA yang berada jauh diluar desanya. Hal yang membuat penulis kembali teringat akan kejadian tersebut walaupun sudah berlalu sekitar 2-3 tahun utu ialah ketika penulis melihat anak anak kecil bermain dengan kakaknya di halaman Menara Kudus (lokasi tempat tinggal penulis selama SMA tidak jauh dari Menara Kudus, sehingga penulis sering kesitu walau hanya sekedar untuk meminum kopi, hehe). Setelah penulis menyaksikan kebahagiaan antara kakak dan adik yang terjadi didepan matanya, penulis mulai berfikir "kasihan adikku yang tidak pernah merasakan kebahagiaan dari kakaknya selama kakaknya di rumah". Sesudah melalui instropeksi diri yang sangat dalam, penulis mulai bertekat untuk membahagiana adiknya. Salah satunya yaitu penulis selalu membelikan adiknya oleh oleh ketika penulis liburan atau rekreasi walaupun penulis sendiri tidak membeli apa apa untuk dirinya. Penulis yang masih bercerita seakan akan tak mampu membendung air mata ketika mengingat kejadian kelam tersebut sehingga semua mata yang ada di kelas tersebut tertuju pada penulis tidak terkecuali mata sang Dosen Wali Penulis.
Biarkan semua cerita penulis menjadi pelajaran bagi kita semua bahwasanya kita sebagai manusia seharusnya slalu memberikan kebahagiaan pada manusia lain terlebih untuk orangtua dan keluarga. Penulis juga meminta maaf atas perlakuan penulis pada sang adik yang jauh dari rasa kemanusiaan. Selain itu, penulis juga ingin memberitahu bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah bahkan akan memperpanjang masalah. Penulis tidak akan menyalahkan perbuatan orangtua penulis yang sangat keras dan kasar pada penulis karena penulis sadar bahwa sepenuhnya penulis yang salah pada saat itu. Selayaknya sang kesatria yang menjadi pelindung bagi orang yang lemah, begitupun juga seorang kakak yang selalu melindungi sang adik. Biarlah air mata penulis menjadi layaknya air yang berada dalam sifat keras penulis sekeras batu.
Mungkin hanya itu yang dapat penulis haturkan pada pembaca. Penulis yakin banyak kesalahan dalam tulisan ini mulai dari format penulisan hingga perilaku atau kata kata penulis yang keras dan jangan sampai ada diantara dari kita yang melakukannya.
Hormat Penulis
Sang Hina